Rabu, 15 Februari 2012

TENTANG DIA (BAB VI di NovelQ)


Tentang Dia

Namanya Mochammad Lugina. Seseorang yang hadir secara tiba-tiba dalam perjalan melupakan cintaku bersama Daniel, cinta yang pernah membuatku terluka dengan sangat.
 Tak ada yang benar-benar istimewa darinya. Seperti jejaka Sunda pada umumnya, dia memiliki kulit kuning langsat yang halus. Wajahnya bulat dengan pipi merona seperti bayi. Akan terlihat lucu sekali ketika dia tertawa. Matanya yang sedikit sipit akan membentuk bulan sabit dengan pipinya yang bulat memerah. Bibirnya ranum seperti seorang gadis, pertanda dia tak suka merokok. Matanya tak terlalu lebar, Cenderung sipit malah namun begitu dia memiliki mata yang berkharisma. Pandangannya tajam penuh perhatian, namun menenangkan, mata yang seolah-olah berkata, kamu akan aman bersamaku.
Anak kedua dari 4 bersaudara. Semua saudaranya laki-laki, kecuali adiknya yang ketiga. Sebuah susunan kakak beradik yang unik. Aku sering bilang pada Ugi jika aku selalu iri dengan Milla, adik perempuannya. Akan sangat merasa aman di antara para jagoan yang siap melindunginya. Yang aku sendiri tak pernah merasa dilindungi siapapun sebelum aku memiliki Ugi. Di antara mereka berempat, Ugi dan adik bungsunyalah yang belum menikah. Milla bahkan sudah memiliki seorang putra yang sangat lucu berusia 10 bulan, Rizky namanya.
Dia bekerja di salah satu unit pelayanan masyarakat di bidang kesejahteraan keluarga. Kepanjangan tangan dari dinas sosial kota Tasikmalaya. Tugasnya memberikan penyuluhan tentang bagaimana menjadi keluarga yang sejahtera secara ekonomi maupun sosial. Basicnya sebagai mantan aktivis sebuah LSM kemasyarakatan memudahkan tugasnya menyelami berbagai masalah sosial yang ada di masayarakat.
Tak ada yang benar-benar istimewa darinya, namun cintanyalah yang membuatnya begitu istimewa. Bagiku, mencintainya, seperti memiliki semua yang ada dalam ramuan ajaib bernama cinta. Ada tawa, sedih, senang, duka, kebersamaan, kecemburuan dan apapun yang ada dalam kehidupan. Aku memiliki kisah cinta yang sempurna dengannya. Kami memiliki kisah cinta yang wajar sebagaimana harusnya meski kadang penuh kejutan.

“Sudahlah nda, kayak anak kecil ah” satu kisah tentang bagaimana besarnya cemburuku padanya. Aku cemberut. Terlanjur termakan curiga. “Papa belajar jujur sama Nda” aku tetap tak menjawab. Memalingkan muka menatap ke arah luar jendela peraduan kami.
“Papa yang ganjen” ucapku terbawa emosi. Aku selalu lepas kontrol untuk urusan menangani emosi seperti ini.
“Aduh Nda..., Papa nggak pernah bermaksud seperti itu. Kak Erwin yang memperkenalkanya pada Papa” sekarang dia mencoba mengkambing hitamkan sahabatnya yang sudah dia anggap seperti kakak itu. Mana ada persahabatan seperti itu, mencoba memakankan teman. Aku menggerutu sendiri dalam hati.
“Tapi Papa mau saja menerima perjodohan terselubung itu kan?” tanyaku semakin kalut.
“Apa Papa bisa menolak kalau Kak Erwin yang memperkenalkannya Nda, Bunda fahami posisi Papa dong, Papa nggak sampai hati sama Kak Erwin kalau harus menolak”
“Itulah kesalahan Papa, Papa tak pernah memperkenalkan aku kepada temen-teman Papa. Kita sudah seperti ini tapi tak satupun teman Papa yang Papa perkenalkan pada Nda” Aku benar-benar lost control. Hanya karena cemburu pada seorang wanita yang sengaja dikenalkan Kak Erwin pada Ugi yang status realnya memang masih sendiri. Kak Erwin tak tahu kalau ada aku di sisi Ugi. Ada aku yang mengisi hari-harinya.
“Kita belum siap bertemu siapapun Bunda” aku hanya bisa menangis. Dia memelukku erat, seakan itulah ucapan maafnya yang terdalam.
Atau sebuah kisah lain dimana aku hampir saja membuat Ugi terbunuh. Hanya karena sebuah sms dari seorang wanita yang mengaku memiliki perasaan lebih padanya. Aku muntab. benar-benar marah waktu itu.
“Siapa Lilyana?” aku mencoba untuk tidak menangis dan berpura-pura untuk terus melanjutan acara memasakku. Ugi terbatuk mendengar nama Lilyana disebut. Dia mungkin tak pernah mengira jika aku bisa tentang mengetahui nama itu.
“Nda tahu dari mana tentang Lilyana” tanyanya dengan gusar.
“Makanya, Handphon jangan pernah ditinggal di rumah Papa sayang, aku jadi bisa lihat sms-sms yang menggelikan itukan” aku masih berlagak tak sedang terjadi hal besar. Yang sesungguhnya hatiku sudah ingin menyemburkan magma kecemburuan yang luar biasa.
Sanes sasahana Bunda, mung rerencangan lami[1]
“Papa masih ingatkan, kalau Bunda tidak pernah suka dibohongi?” aku merasa bawang merah yang aku rajang menjadi 10 kali lipat pedasnya, menusuk-nusuk mataku.
Ugi terdiam. Tak mencoba mendebatku. Namun hal itu tak membuat aku lebih baik. Aku hanya ingin penjelasan. Siapa wanita yang mengaku tergila-gila pada Ugi itu. Aku mulai terisak. Ugi sadar hal itu, mermbuat dia bergeming. “Papa berkata benar Nda”
“Apa aku bisa percaya kalau aku sudah baca sms mesra Papa untuk wanita itu?” tangisku pecah. Bagaimana mungkin aku percaya jika wanita yang di ID Numbernya bertuliskan dengan nama Lilyana itu bukan siapa-siapa. “Papa tak pernah bilang punya teman bernama Lilyanan” kemesraan benar-benar terlihat bagaimana cara wanita itu mengagumi Ugi. Tentu siapapun yang membaca sms-sms itu akan tahu betapa dia begitu mencintai Ugi, pun dengan balasan Ugi sendiri, penuh dengan pujian dan sanjungan mesra kepadanya.
“Kamu salah paham Nda, tidak ada apa-apa dengan Lilyana, dia hanya salah satu teman lama Papa. Itu saja”
“Apa aku harus percaya kebohongan itu pa?” pisau yang aku pegang tiba-tiba menjadi perisai dalam pertengkaran ini. Aku tanpa sadar mengacungkan pisau itu ke arah Ugi. Ugi yang mengira aku akan berbuat nekat, reflek mengambil pisau itu dari tanganku dengan paksa. Aku yang terkaget dengan reaksinya langsung mengibaskan pisau itu ke sembarang arah, yang akibatnya lengan Ugi terluka dan berdarah.
Aku langsung histeris. Ku tatap wajah Ugi yang kesakitan. Aku berlari mencari apapun yang bisa mencegah darahnya terus keluar. Memberika pertolongan pertama dan menelephon ambulance untuk membawa kami ke rumah sakit.
“Enggak usah ke rumah sakit Nda, cuma luka sedikit saja kok” aku membersihkan lukanya dengan air mata berderai. Antara rasa bersalah dan kesakitan melihat luka di lengan kekasihku.
“Maafin Nda pa, Nda ngga sengaja. Nda keget melihat Papa tiba-tiba meraih pisau di tangan Nda, padahal Nda nggak ingin melakukan apapun” dia raih tubuhku. Di bawanya aku ke dadanya yang berdegup kencang.
“Percaya sama Papa Nda, tak ada siapapun selain Nda di hati Papa. Hanya Bunda” Kami menagis bersama dalam keharuan. “Kalaupun Papa harus berselingkuh, Papa hanya akan menyelingkuhi bayangan Bunda”
Lihatlah betapa besar cintaku padamu sayang. Bahkan dengan bayanganku sendiripun aku bisa cemburu.

Pun bagaimana dia menujukkan rasa cintanya dalam bingkai cemburu yang pas, tak berlebihan namun membuatku merasa benar-benar dicintai.
“Mau dicat apa kamar kita nda?” Kami kebingungan memilih pulahan daftar warna di sebuah toko bangunan di ujung jalan RE Martadinata. Dia sedikit cemberut karena diskusi panjang kami sampai detik inipun tak menemukan titik temu.
“Eem, Beauty Romantic” pekikku setelah berfikir cukup lama. Raut Ugi langsung berubah. Meski mencoba tenang, namun gurat ketidaksukaan begitu terasa.
“Nah.., bagus itu. Cocok untuk kamar pengantin” Koh Ayong, sang pemilik toko menimpali, membuat Ugi yang ingin menolak urung menyampaikan. “Anak muda sekarang pinterlah pilih warna” imbuk Koh Ayong dengan logat tiong-hoanya yang kental. Ugi semakin cemberut.
“Gimana pa?” tanyaku mencoba tak menghiraukan perubahat raut diwajahnya.
“Terserah Bundalah” jawabnya sembari ngeloyor pergi, membuat aku dan Koh Ayong melongo.
Sepulangnya dari toko bangunan itu Ugi tak menyapaku sedikitpun. Dia langsung menuju kamar dan merebahkan tubuhnya. Aku hanya bisa menarik nafas panjang.
“Papa kenapa sih?” kuusap pungunggnya sembari menatap lekat wajahnya, mencoba menetralisir sebuah kecemburuan yang mungkin saja dia rasakan saat ini.
“Kamu masih ingat Daniel ya?” tebakanku  benar, kamu sedang cemburu sayang.
“Masih,” jawabku tenang. Dia kontan memutar tubuhnya, semakin membelakangiku. “Lho? Kok marah?” aku suka gayamu yang seperti anak kecil ini sayang.
“Cat saja semua ruangan di rumah ini dengan warna favorit kalian” nadanya sedikit meninggi, aku terkaget. “Beauty Romantic…, hmm, sok imut banget” ungkapnya penuh cibiran.
Beauty Romantic, tema warna yang dulu aku dan Daniel rencanakan akan menghiasi setiap sudut rumah tinggal kami, warna yang kata Daniel akan menjadi simbol kemesraan. Namun bukan berarti Daniel masih ada di hati dan pikiranku saat ini. Aku hanya suka warna itu, seperti wanita pada umumnya. Warna-warni pink, ungu, maroon atau gradasinya. Warna-warna cinta yang romantis. Tak ada yang salah dengan warna seperti itu aku kira. Aku hanya tersenyum di balik tubuh Ugi, kekasihku yang sedang cemburu.
“Duuh, ada yang lagi cemburu ni…,” aku mencoba merayu dengan memeluknya dari belakang.
“Siapa yang cemburu?”
“Papa” jawabku dengan cepat. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan menatapku lekat.
“Sekarang jawab dengan jujur, kamu masih ingat-ingat Daniel nggak?” dia seperti ingin mengintimidasiku.
“Eitss,” aku menjauhkan wajahnya yang terlalu dekat dengan mataku. “Masih ingat iya, tapi kalau untuk mengingat-ingat, maaf, sudah enggak ada waktu. Waktu Bunda sudah habis hanya untuk mengingat satu cinta yang saat ini menatap Bunda dengan garangnya” dia semakin melotot. aku balas melotot, lalu kami sama-sama tertawa, menertawakan kekonyolan kami.
Seling cemburu, saling mengungkapkan bahasa cinta yang luar biasa.
Kehidupanku di Tasikmalaya bisa dikatakan baik, teramat baik. Usaha yang aku kembangkan, maju pesat. Pemasarannya mulai melebar ke beberapa daerah di sekitar Tasikmalaya. Five-in mulai dikenal sebagai life style fashion kota berjuluk Delhi Van Java itu. Dengan mulai banyaknya outlet-outlet yang kami buka, dibantu dengan tangan dingin Ugi dalam menentukan segmen pasar, membuat usahaku berkembang dengan cepat. Ugi memang jeli membidik trend yang sedang ada di pasaran. Industri kreatif yang aku jalankan berjalan dengan grafik yang terus meningkat karena pengaruhnya. Tak percuma dia pernah memdalami ilmu psikologi pasar di bangku perkuliahan dulu. Nilai IPK nya yang Summa Cumlaod adalah bukti pengakuan Universitas Siliwangi kapadanya sebagai mahasiswa berprestasi. Kamu memang hebat Tuan Penolong.
Teman-teman Five-inku pun dibuat kagum. BEP 100% yang aku janjikan kembali dalam waktu dua tahun bisa terpenuhi hanya dalam kurun waktu 1 tahun saja. Mereka memujiku sebegai marketing didikan alam. Mereka tak pernah tahu jika ada sesosok istimewa di sisiku. Sosok yang selalu mendukungku, apapun itu. Mereka tak tahu jika ada Ugi di sampingku.
Hingga suatu saat,
Ana menatapku tajam. Seperti ingin menghukumku atas sebuah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak bisa membuat semua lebih baik. Saat ini, hanya inilah yang bisa aku lakukan.
“Kamu sudah berfikir sebelum mengambil keputusan itu?” Ana terlihat menahan kemarahan yang besar. Kerutan di dahinya bisa aku lihat dengan jelas.
“Menurutmu apa aku punya pilihan lain?” jawabku membela diri.
“Kamu tentu punya pilihan di setiap keadaan” suaranya terdengar meninggi meski dia membuatnya setenang mungkin.
“Kamu nggak mengerti situasiku Na,”
“Kami memang tak mengerti apa yang membuat kamu mengambil keputusan seperti ini, juga dengan hubungan apa yang sedang kalian jalani saat ini” Ana beranjak meninggalkanku. Aku terisak. Aku tahu dia begitu kecewa denganku.
Tucha memelukku erat. Aku membalasnya pun dengan demikian erat. “Kami sayang sama mbak Lia” Tucha terisak bersamaku.
“Pasti kalian kecewa denganku”
“Bukan kecewa mbak, tapi kami ingin yang terbaik untuk mbak” Tucha semakin mempererat pelukannya.
Saidah menyodorkan segelas air putih kepadaku. “Sudahlah, tenangkan dirimu dulu. Kita bicarakan lagi nanti” ucapnya sembari membelai pundakku.
Aku benar-benar merasa bersalah dengan sahabat-sahabatku ini. Apa aku bisa disebut teman yang baik untuk mereka padahal meraka selalu ada untukku? Aku seperti tak tahu balas budi. Seperti seseorang yang tak pernah mengenal rasa terimakasih. Tapi bukan seperti itu keadaanya. Aku hanya ingin hubungan kami, hubunganku dengan Ugi yang sudah begitu jauh tak lagi menumpuk dosa. Bagaimana kami sudah terlalu jauh mengartikan cinta dalam bungkus hasrat sebagai dua insan muda yang tengah dimabuk asmara.
Suasana ketika itu grimis setelah hujan lebat. Rintik-rintik dan dingin. Aku melihat Ugi tersandar di sofa ruang tengah rumah yang aku beli sebulan setelah aku putuskan pindah ke Tasikmalaya. Kesibukannya dengan penyuluhan di pedalaman Tasikmalaya membuatnya terlihat sangat letih.
Lemon tea hangat adalah kesukaannya. Aku buatkan dengan sedikit menambahkan gula batu. Pas untuk sore yang dingin.
“A’, diminum tehnya, mumpung masih hangat” kubelai bahunya, mencoba membangunkannya.
Dia memberiku senyuman di tengah kelelahannya dengan mata yang masih memerah. “Eem, mana sayang?” aku berikan secangkir teh yang telah aku siapkan sembari membersihkan peluh di pelipisnya.
Cape ya A’?” tanyaku.
“Iya sayang, hari ini ada penyuluhan di daerah Taraju, jalanannya berkelok-kelok, di kanan kiri jurang dan tebing, ada beberapa titik bekas longsor. Jadi agak cape”
“Laper nggak?”
“Laper banget” jawabnya polos. Aku berniat beranjak namun baru saja akan berdiri tangannya mencegahku. “Mau kemana?”
“Mau nyiapain makan buat Aa’” jawabku.
“Enggak usah, temani saja Aa’ di sini” dia tarik tanganku dengan tenaga yang sedikit berlebihan menurutku. Membuat aku limbung dan jatuh menindihnya.
“Aa’, iseng ah, lepasin. Malu dilihat orang” tapi dia tak menjawab. Dia hanya menatapku lekat. Dan sekali lagi, mata itu membatku terlena. Membuat kami terbang ke arah lain dari cinta.
Ya Allah,
Jika malam ini aku hadir dalam sisi-Mu sebagai  manusia yang salah
Maka ampunkanlah, sebegaimana sifat asih-Mu
Hamba datang dengan penuh kepasrahan atas takdir yang Engkau gariskan,
Atau jalan takdir yang hamba pilih
Ya Allah,
Hamba haturkan selaksa permohonan untuk sebuah kegundahan
Resah hati yang membara,  menjadi kian parah
Lalu jiwa terparut luka, dalam perih yang tak terhingga
Ya Allah
Hamba mencintainya, dengan teramat sangat
Seperti cinta Zulaiha kepada Yusuf, seperti cinta Muhammad kepada Khodijah
Hanya caraku mencitainya salah, tak setulus cinta Adam kepada ibu Hawa
Ya Allah, untuk cinta yang lain ini,
Ampuni caraku memperlakukannya, pun caranya memperlakukanku
Kami hanya manusia yang begitu terlupa karena sebuah kefanaan.

“Ambil ini, ini nomor telepon bapak kamu” Ana menyodorkan sebuah kertas ke arahku. Aku hanya menatap benda itu bergantian dengan raut wajah Ana yang datar. Ana tentu tahu jika aku tak pernah suka orang itu disebut-sebut dalam hidupku, apa lagi harus menghadirkannya di kehidupanku lagi.
“Setahuku, keadaanmu belum melunturkan ketentuan syariat yang harus kita laksanakan sebagai seorang yang beriman” dadaku naik turun. Menahan nafas yang tiba-tiba berat.
“Kami tak melakukan kesalahan dalam pernikahan ini” jawabku.
“Menurutmu apa hukum pernikahan yang salah satu saja rukunnya tak terpenuhi?” kali ini aku rasakan tatapan Ana seperti menghakimiku. “Tak usah dijawab, aku yakin kamupun tak ingin menjawabnya, bagaimanapun setiap anak perempuan tetap butuh wali sah untuk menikahkannya”
“Wali hakim sudah cukup untuk menikahkan kami” jawabku dengan nada tinggi.
“Jangan hilangkan haknya sebagai bapak kandungmu Lia. Dia punya hak untuk menikahkan anak perempuannya, dan kamu tak berhak menggantikannya dengan siapapun selama dia masih ada”
“Dia telah membuang haknya saat dia menelantarkanku”
“Kamu bukan Tuhan yang bisa menghukum seseorang. Biarkan itu menjadi hak prerogatif Tuhan. Kami tidak akan pernah membiarkanmu menjadi pelanggar peraturan Tuhan”
Aku tak sanggup lagi berkata-kata. Semua tertumpuk dalam dadaku yang sesak. Aku merasa menjadi seorang pendosa dengan deretan kalimat yang Ana ucapkan. Aku menangis, namun hanya bisa didengar oleh hatiku.
Ana meraih tanganku. Menggenggamnya erat, penuh kasih. “Jika kamu masih berat untuk menghubunginya, biar aku yang memintanya untuk menyelesaikan kewajibannya, mengantarkan putri cantiknya ini kepelaminannya yang suci, dengan syari’at yang agung”



[1] “Bukan siapa-siapa bunda, hanya teman lama”

Selasa, 14 Februari 2012

AKU, KAMU DAN KEBAHAGIAAN (BAB V di NovelQ)


Aku, Kamu dan Kebahagiaan

“Lia, ini sudah terlalu lama, pulanglah” suara Ana di ujung telepon terdengar gusar. “Apa kamu lupa kamu punya banyak tugas di sini?” bukan itu yang ingin Ana katakan. Ana hanya ingin mengatakan. Jangan buat kami hawatir teman. Dia tak pernah bisa mengatakan sesuatu secara verbal dan jelas.
“Iya, aku akan segera pulang. Aku juga tak ingin menghabiskan lebih dari setengah tabunganku di sini” jawabku sekenanya.
“Temenku yang di Bandung bilang dia nggak ketemu kamu di stasiun? Benar itu? Terus kenapa handphone kamu nggak aktif selama lebih dari dua minggu?” Ana tetaplah Ana. Sahabat terhebat yang pernah aku miliki. Dia tak perlu mengatakan jika dia begitu teramat-sangat hawatir kerana aku tiba-tiba menghilang, tapi dari pertanyaannya itu aku tahu dia lebih dari sekedar hawatir. Aku baik-baik saja kawan. “Kapan pulangnya? Biar kami jemput di bandara”
“Naik kereta saja. Aku lebih suka pakai kereta”
Sudah waktunya aku kembali. Sahabat-sahabatku menantikan kehadiranku. Aku sudah membuat meraka terlalu khawatir dengan hilangnya aku selama lebih dari dua minggu. 17 hari tepatnya. Keputusanku untuk menyendiri memang tak bisa diganggu gugat. Tidak juga bantuan dari teman Ana yang berada di Bandung. Bagiku itu bukan sebuah bantuan, melainkan bentuk lain dari pengawasan yang Ana siapkan dan aku benar-benar sedang tidak ingin ada pengawasan dalam bentuk apapun. Lalu aku tak pernah menemuhi Edy, teman yang Ana minta menemaniku selama di Pangandaran.
Ugi memandangiku tanpa berkata apapun. Kami sama-sama terdiam. Lama sekali. Lebih dari  dua minggu ini dia adalah tempatku mengadu. Entah kenapa aku merasa nyaman berbagi cerita dengannya. Pengalamanku yang cukup menyakitkan tentang orang-orang di sekitarku membuat aku menjadi pribadi yang sulit menerima orang baru di hidupku, tapi tidak dengan Ugi. Dia berbeda. Dia bisa membuatku merasa nyaman untuk menceritakan apapun.
“Aku pulang ya A’, terimakasih telah dijaga selama di sini” dia hanya menatapku. Tak ada satu katapun yang terdengar darinya. “ Kenapa diam? Kan kita masih bisa ketemu lagi. Insyallah,”
Tak bosannya kami menyaksikan semburat senja yang indah di ufuk barat. Seperti lembaran permadani jagad raya yang menutupi langit dengan warnanya yang anggun. Kemerahan bersulam emas dan sedikit gumpalan awan abu-abu berlalu-lalang. Bertambah cantik dengan pantulan cahaya matahari di gelombang laut yang tenang, Seperti dilatasi dua benda yang sama-sama ingin menunjukkan kecantikannya. Ditambah semilir angin Pangandaran yang menenangkan itu, membuat semua beban serasa menguap.  Kamu benar A’, aku telah jatuh cinta dengan semilir angin pangadaran.
“Jadi kapan pulangnya?” suaranya terdengar serak. Tatapannya tak beralih dari senja yang kemerahan itu.
“Besok,” jawabku
“Tetaplah di sini” ucapnya lirih.
“Aku ingin, tapi aku punya banyak tanggung jawab di Surabaya. Aa’ kapan-kapan mainlah ke Surabaya. Aku yang akan menemani” kenapa jadi aku sekarang yang  membujuknya? Terkadang kamu seperti anak kecil juga ya Tuan penolong. “Atau aku yang akan ke sini lagi”
Tak ada yang menduga aku bisa pulih sedemikian cepet. Ana terheran ketika aku berlari dengan senyum mengembang menyambut pelukannya. Dia menatapku penuh tanya ketika kami bertemu untuk pertama kali di stasiun Gubeng, seperti tak percaya menyaksikan 1800 perubahanku. “Nice to see u sista” ucapnya sembari memelukku erat namun dengan nada yang masih tak yakin.
“Semua baik-baik sajakan?” tanyanya untuk kesekian kali, dan aku mengangguk mantap meyakinkannya jika aku tetap temannya yang sama, yang 17 hari lalu dia lepas kepergiannya dengan sisa hidup yang sepertinya tak akan lama.
Ku lihat juga semua temanku datang menjemput. Lengkap. Beserta Chofi, suami dari Tucha. “Mbak Lia.., kangen” tucha memelukku erat. Seperti telah lama sekali kami tak bertemu. Setelah itu Icha dan Saidah. Semuanya menyambutku dengan bahagia.
Sudah kuputuskan untuk mengubur kisah itu dalam. Menyimpan masa lalu itu dengan rapat. Tak perlu lagi aku mengingat seseorang yang mungkin kini tak lagi mengingatku. Aku bisa melakukan itu pada kedua orang tuaku, juga keluargaku, mana mungkin aku tak bisa melakukannya pada seseorang yang sebelumnya juga adalah seorang yang asing.
Setelah itu, aku kembali pada rutinitasku. Sebagai manager marketing courporate kami. Kangen sekali aku pada ruangan kecilku di lantai tiga ruko yang kami beli dengan susah payah ini. Ruko yang kami bilang sebagai cikal bakal dari gedung pencakar langit yang akan kami miliki nanti.
Semua tetap sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Tetap berantakan dengan kertas catatan yang tergelatak di sembarang tempat. Hmm, ternyata aku memang tak pernah bisa rapi. Aku menghela nafas berat, lalu menertawakan kekonyolanku sendiri. Sepertinya teman-temanku tidak menyentuh sama sekali barang-barangku di ruangan ini. Aku memang tak pernah suka orang lain memindahkan barang-barangku tanpa seizinku. Dan itu yang mereka lakukan untukku. Tak memindahkan satu barangpun dari ruangan ini.
Rasanya sudah lama sekali aku tak melihat kesibukan di jalan raya Karang Menjangan dari jendela ruanganku. Sesuatu yang dulu sering aku lakukan sebelum cinta Daniel menjadikanku mayat hidup karena perpisahan itu. Aku selalu suka menikmati keramaian jalan Karang Menjangan. Jalan utama yang persis di depan ruko kami. Tak terlalu padat dengan aktivitas lalu lintas. Hanya sesekali dan pada jam tertentu saja kepadatan terjadi di sana, dan itupun tak terlampau parah menurutku. Kendaraan-kendaraan itu seperti sedang berlomba menaklukan waktu. Saling berkejaran dengan satu tujuan pasti, untuk segera menemui arah lari mereka. Aku menyaksikan deretan itu, seperti melihat pada diriku sendiri. Melihat kaki kecilku yang sedang berlari mengejar dimensi hidup untuk segara sampai di tujuan hidupku, berlari menjemput mimpi. Ah, sok dramatis sekali.
 Lokasi ruko kami yang  tepat menghadap jalan raya itu menjadi sangat strategis dengan diapit antara rumah sakit umum daerah Dr. Soetomo dan beberapa perguruan tinggi terkenal di jawa timur. Tentu saja hal itu memberi dampak yang sangat baik untuk bisnis yang sedang kami kembangkan. Akses yang mudah adalah salah satu syarat yang harus ada untuk pengembangan bisnis seperti yang sedang kami geluti.
Kluing, handphoneku berbunyi. Sebuah sms masuk.
“Pagi Lia manis,” dari nomor baru. Aku tak pernah suka membalas sms-sms iseng seperti ini. Aku biarkan saja. Aku kembali menikmati pemandangan di bawah sana.
Kluing, Kembali satu sms aku terima.
“Aku tahu kamu tak akan membalas sms seperti ini” aku mulai penasaran. Tapi aku mencoba tak perduli. Jika orang itu perlu pasti akan mengatakan kepentingannya menghubungiku. Belum sempat aku menikmati lagi pemandangan di bawah sana, satu sms kembali aku terima. “Maukah kamu mentraktirku es kelapa muda di pinggiran pantai Pangandaran?” aku terbelalak. Ah kamu, suka sekali memberiku kejutan.
Segera kudial nomor baru itu dan mendapati suara cekikikan dari seberang sana. “Assalamualaikum Manis” entah kenapa aku seantusias ini menyambut telepon darinya.
“Waalaikum salam” jawabku. “Jahat ah, aku pikir siapa tadi, jangan suka iseng atuh”
“Keisengan yang paling aku suka ya ngisengin kamu” aku dengar tawanya yang renyah. Tawa yang membuatku rindu pada pemiliknya. Ups? Rindu?.
“Kok Aa’ tahu nomor teleponku?” seingatku aku tak pernah memberinya nomor handphone. Dari mana dia mendapatkannya?
“Dunia sudah maju manis, nggak sulit buat ngelacak keberadaanmu” lalu kami tertawa bersama.
“Di Tasikmalaya? Kamu yakin?” Saidah mencoba menebak keseriusanku untuk membuka cabang di sana. “Enggak boleh” Saidah menolak usulku. Dia tahu repotasiku ketika menghadapi permasalahan, lari dan menghilang atau memilih menyelasaikannya dengan caraku sendiri, apapun bentuknya. Apalagi untuk permasalahan seberat kemaren, mungkin Saidah khawatir jika aku akan berbuat nekat dengan cara yang tidak akan mereka tebak sebelumnya.
“Usaha kita di sini sudah bisa berdiri tanpa aku, atau aku bisa mengontrolnya di Tasikmalaya nanti” aku mencoba melobi sahabat-sahabatku ini. Mereka tampaknya masih belum mempercayaiku apalagi ditambah dengan peristiwa menghilangnya aku selama 17 hari.
“Kita baru memulainya di sini Lia, mana mungkin kamu sudah meninggalkannya” Saidah bersikeras.
“Kita perlu perluasan secara nasional” jawabku diplomatis.
“Kita kuatkan dulu yang di sini”  Icha melengkapi. Mereka tentu tahu, aku tak mudah dipatahkan tanpa argumentasi yang lebih kuat dari keputusanku. “Jangan terlalu terburu-buru” Icha menambahi.
“Aku yakin usaha ini akan berdampak baik. Tasikmalaya daerah yang startegis teman” apa kalian sudah tahu kalau aku juga ingin menjauh dari hiruk-pikuk Surabaya?.
“Kenapa dengan Tasikmalaya?” Ana memancingku dengan analisis yang  mungkin bisa mematahkan keteguhanku.
“Karena Tasikmalaya memiliki potensi di bidang yang tengah kita jalani. Pariwisata di sana sedang berkembang baik. Banyak investor yang menilai Tasikmalaya sebagai daerah dengan prospek investasi paling cerah dibandingkan daerah lain. Pemerintah tengah mengembangkan daerah ini untuk menjadi daerah tujuan wisata dan belanja. Kiblat wisata dan belanja bukan lagi melulu ke Bandung atau Jogjakarta, melainkan sudah bergeser ke selatan jawa, yaitu Tasikmalaya.” jawabku dengan logika ekonomi yang aku pelajari. Aku tak berlebihan karena memang itulah kenyataannya. Tasikmalaya memiliki potensi yang baik untuk pengembangan usaha industri kreatif kami. Pun memiliki cintaku yang tertinggal disana. Cinta yang takku tahu kapan mulai berseminya. Mungkin sejak ciuman pertama itu, aku langsung jatuh hati  pada Tuan penolongku.
“Berapa nilai yang kamu targetkan?” dengan dingin khas pengusaha muda, Ana mencoba beranalisis atau sekedar menakutiku dengan kata target. Sepertiya kamu belum begitu mengenalku Ana.
“Dua tahun, BEP 100%” Ana tersenyum. Tanda dia menerima tantanganku.
Setelah kepulangaku ke Surabaya, tak sedikitpun mengurangi kedekatanku dengan Ugi. Kami masih sering berbagi kebar melalui media apapun yang memungkinkan kami bisa berkomunikasi. Melalui seluler, BBM, Yahoo Messengger atau pun sekedar inbox Facebook,.
“Kamu serius mau membuka cabang di Tasikmalaya?” tanyanya antusias. Aku mengangguk dan memberinya senyum termanis. Video Messenger memudahkan kami berbagi ekspresi. “Kapan rencananya?”
“Bulan depan, mau survey lokasi. Kalau ada yang pas, langsung mengurus kepindahan. Ini baru melakukan persiapan awal”
“Nanti aku bantu mencarikan tempat yang strategis” Meski remang-remang dari layar Video Messenger, aku bisa melihat semangatnya. “Aku kenal beberapa orang yang bisa membantu untuk urusan bisnis seperti ini” Aku mengangguk.
“Lia, emm, aku boleh mengatakan sesuatu yang sedikit serius?” Nadanya berubah. Seperti ingin mengatakan sesuatu yang berat.
“Naon A’?”
“Mau ikut bersamaku?” Aku tatap pemuda yang tergambar di balik layar maya Video Yahoo Messenger. Dia seperti sedang berdiri di sampingku, dan aku mengangguk bahagia.
“Ke mana kamu akan mengajakku?”
“Aku ingin membawamu ke sebuah tempat, yang hanya akan ada Aku, Kamu dan Kebahagiaan.
Aku ingin membawamu ke sebuah tempat, yang hanya akan ada Aku, Kamu dan kebahagiaan.
Perkenalkanku dengan A’ Ugi memjadi titik baru dalam hidupku. Kehadirannya seperti sebuah oase yang aku temukan di tengah gurunku yang panjang. Dia datang membawa kebahagiaan untukku dengan tak terhingga.
“Kenapa kamu mencintaiku?” tanyanya di suatu pagi yang indah di tengah padang rumput hijau di bawah kaki gunung Galunggung , Tasikmalaya.
Aku menatapnya dalam. Seperti mencari jawaban dari pertanyaannya. Aku mencintaimu karena kamu mempunyai senyum yang menenangkan cinta, lihatlah bibirmu yang merona seperti bayi itu, berpadu manis dengan kulitmu yang langsat membuat pipimu akan merona jika kau ketahuan memandangiku yang sedang berdandan, seperti seoarang gadis yang tersipu ketika dirayu kekasihnya. Atau lihatlah pula hidung kebanggaanmu itu, mancung runcing dengan gagah. Tapi dari semua itu, aku lebih suka matamu. Matamu yang indah. Mata elang yang membuatku selalu merasakan cinta yang besar ketika menatapnya. Aku mencintaimu lebih dari kata-kata.
“Aku mencintaimu karena kamu bisa memperlakukanku dengan baik A’, tak kurang, tak berlebih” aku genggam tangannya yang hangat. Meyakinkan jika semua yang aku katakan benar adanya. “Kenapa Aa’ mencintaiku?”
Dia menatapku dengan mata indahnya, mata yang selalu membuatku jatuh cinta itu. Mata elang yang menyejukkan.
“Karena aku terlahir untukmu”
Ah, seakan segala keindahan dunia tercurah sekali lagi padaku. Lebih dari ketika Daniel mengatakan pujiannya padaku waktu itu. Lebih dari kebahagiaan wanita manapun di dunia ini. Lebih dari semua cinta yang pernah ada.
Aku hanya wanita
Yang  ingin mencintaimu dengan sempurna
Seperti malam yang malang tanpa gelap
Laksana pagi yang hilang tanpa terang
Aku hanya wanita
Yang ingin mencintaimu dengan benar
Seperti bilangan ganjil dengan genap
Laksana detak jantung dalam hitungan
Aku hanya wanita
Yang ingin mencintaimu dalam nyata
Seperti bias dalam ruang hampa
Laksana cakrawala dalam semesta
Aku hanya wanita
Yang akan mencintaimu selamanya
Seperti setia angin kepada udara
Laksana kepatuhan hamba kepada Tuhanya
Aku hanya wanita
Yang akan selalu menemanimu dalam doa

Senin, 13 Februari 2012

My Destiny (BAB IV NovelQ)


My Destiny

Tasikmalya, 24 Desember 2010
Hari ini tepat dua tahun setelah kejadian itu. Malam dimana nyawaku hampir terampas oleh ombak pasang Pangandaran, telah mempertemukan aku dengannya. Dengan kekasihku.
Setelah kejadian malam itu, aku tak pernah keluar hotel meski hanya sekedar berjalan-jalan di pasar rakyat Pangandaran. Aku tak berniat atau bahkan tak ingin tahu perihal pasar yang katanya kita bisa mendapatkan berbagi macam hasil laut tangkapan nelayan tradisional Pangandaran atau juga souvenir khas Tasikmalaya yang memang terkenal sebagai kota UKM-nya Indonesia. Aku tak berselerah untuk semua itu. Aku lebih suka mengunci diri di kamar, menikmati kesendirian. Sudah 5 hari aku di Pangandaran, namun baru sekali itu aku keluar hotel, dan itupun aku hampir mati. Sudahlah, biar aku menikmati pemandangan matahari Pangandaran yang indah dari balik jendela penginapanku yang langsung menghadap ke lautnya yang lepas.
Tok, tok,
Suara pintu kamarku diketuk. Seingatku aku tak meminta pelayanan apapun dari resepsionis. Aku hanya minta disediakan makanan nanti jam 5 sore, sedang ini masih jam 1 siang. Dengan malas aku mengangkat tubuhku untuk melangkah membuka pintu. Kurapikan jilbab yang aku pakai seadanya, merapikan switer coklat sebagai penutup babydoll lengan pendek yang aku kenakan.
“Siapa?” tanyaku dari dalam sembari melangkah mendekati pintu. “Saya tidak  minta pelayanan kamar” ucapku setelah membuka kamar. Namun bukan pelayan kamar yang aku temukan di depan pintu. Di depanku saat ini berdiri pria bertubuh tidak cukup tinggi, mungkin hanya sekitar 168-170an saja, dan dengan badan yang juga tidak bisa dibilang atletis. Dia tersenyum kepadaku, lalu menyodorkan bungkusan plastik berisi ikan tongkkol asap.
“Assalamualaikum” ucapnya ramah dengan senyuman terlukis di wajahnya.
“Wa,waalaikum salam” jawabku tergagap. Aku rasa mukaku sekarang memerah menahan malu karena kejadian 3 hari lalu. Teringat jika lelaki di depanku itu telah menciumi bibirku. Ah, itu bukan ciuman, itu adalah prosedur penyelamatan pertama untuk korban tenggelam sepertiku. Aku mencoba menghibur diri.
“Sebenarnya sejak kemarin aku ingin mengunjungi Mbak, namun aku tak enak.” Ucapnya dengan suara basnya yang kental. “Aku tadi tanya ke resepsionis apa Mbak sudah pulang atau belum, tapi resepsionisnya bilang Mbak sudah 3 hari ini tidak keluar kamar, boleh tahu kenapa?” tanyanya masih di depan pintu.
“Mbak?” Nada suaraku seperti bertanya. Memang bertanya. Kenapa dia bisa memanggilku Mbak, apa dia tahu aku bukan orang Sunda?.
Dia terkekeh, memamerkan gigi-gigi putihnya yang rapi “Resepsionis bilang Mbak dari Surabaya, jadi saya panggil Mbak saja, kalau teteh nanti takutnya kurang berkenan kan” Jawabnya.
Setelah itu pembicaraan kami lanjutkan sembari berjalan menyisiri pantai Pangandaran. Sesuatu yang sebenarnya tak ingin aku lakukan. Namun dia berhasil membujukku untuk mau keluar, menikmati semilir angin Pangandaran.
“Anda akan jatuh cinta dengan semilir Pangandaran, percaya sama saya” bujuknya.
Dari perbincangan kami, aku tahu kalau dia warga asli Tasikmalaya. Hanya saja dia sedang berdinas beberapa bulan di Pangandaran ini, untuk dinas sosial tempat dia bekerja.
“PNS” ucapku sinis, profesi yang banyak sekali diminati pribumi indonesia.
“Bukan, hanya MoU saja, kotrak dinas istilahnya, kantorku tak ada hubungan struktural dengan pemerintah” dia asyik sekali bercerita tentang aktivitasnya di sini. Mengisi penyuluhan perikanan, pertanian, UKM atau apa saja bidang usaha yang tengah digeluti masyarakat.
“Ya namanya saja unit pelayanan keluarga sejahtera” ceritanya sambil terkekeh. Entah kenapa aku suka sekali melihatnya tertawa. Seperti tak ada beban yang dia rasakan. Tawanya ringan dan lepas. Membuatku untuk ikut tersenyum melihatnya.
“Kamu kalau tersenyum manis lho, makanya, mukanya jangan ditekuk terus, biar tambah manisnya” Aku menunduk, malu. Dia menangkap senyum yang aku coba tahan. Ah, sudah ketahuan juga.
“Kamu lagi liburan ya di sini? Eh kalau di sini itu apa ya bahasa Jawanya” pancingnya untuk aku mau membuka suara. Sedari tadi obrolan kami, praktis hanya dia yang bercerita. Kalaupun dia bertanya, aku hanya akan menjawab dengan menggelang, mengangguk ataupun dengan gumaman yang tidak bisa diartikan sebagai jawaban pasti. Jika aku tak menjawab, itu artinya jawabanku bukan iya atau tidak, tapi aku malas menjawabnya.
Aku kembali hanya mengagguk kecil “Hmmmm, mengangguk lagi, apa nggak cape kepalanya?” dia menarik nafas berat yang sepertinya dibuat-buat.
Ten meriki” jawabku pelan. Dia menghentikan langkahnya. Pun menahan tanganku untuk berhenti pula.
“Apa tadi?” tanyanya seperti tidak medengarkan, atau pura-pura tak mendengar. Aku menggeleng. Tapi dia tetap memaksaku dengan senyumannya yang dia tarik lebih lebar. Aku tetap menggeleng.
Dengan cepat dia menarik tanganku berlari ke arah laut, semakin berlari. Pasir putih  Pangandaran berkecikapan oleh langkah-langkah cepat kami.
“Apa-apan ini?” tanyaku sedikit berteriak. Tapi dia seperti tak peduli dan membawaku semakin ke tengah. “Lepaskan” suaraku hilang ditelan ombak. Tinggi air sudah mencapai lututku. Rok panjangku timbul tenggelam di gelombang laut Pangandaran.
“Bilang dulu tadi apa?” teriaknya dengan senyum penuh kemenangan karena telah membuatku berbicara. Aku menggelang. “Ok, kalau begitu kita mandi sama-sama di Pangandaran” dia tertawa lepas, semakin aku meronta, semakin kuat dia memegangi pergelanganku.
“Lepaskan!!!” teriakku.
“Jawab dulu, apa susahnya sih menjawab?” dia semakin mengajakku ke tengah, hampir ke pinggang air laut meneggelamkanku.
Aku panik, bukan apa-apa, aku memakai rok, bukan celana. Gelombang laut membuat rokku tersingkap. Aku melihat sekeliling, memang tak banyak orang, namun siapa saja bisa melihat ke arah dua orang gila yang tengah bermain dengan air laut yang mulai pasang hingga ke tengah dan tanpa pengaman. Yang aku sendiri masih trauma dengan kejadian 3 hari yang lalu.
“TEN MERIKI…!!!” teriakku dengan air mata yang tiba-tiba keluar. Ugi terkaget, lalu melepaskan pergelangan tanganku yang memerah karena peganganya yang terlalu kuat. “Kamu sekarang yang gila!” teriakku lagi, “Kamu menyelamatkanku dari kematian tapi membiarkan orang melihatku seperti ini,” dia hanya menatapku. Menatap tubuhku yang hampir semua terendam air laut. Aku risih dengan pandangannya. Aku tak pernah suka orang memandangiku dengan cara seperti itu.
Dia menuntunku untuk keluar dari air. Dia berikan jaket yang ia kenakan meski sabagiannya telah basah.
“Maafkan aku” ucapnya sembari memberiku sebutir kelapa muda. “Aku hanya bercanda”
Aku tak menaggapinya. Aku marah. Siapa dia? Apa kita pernah berteman sebelumnya hingga dia berani bercanda seperti itu denganku? Aku hanya diam menatap lurus Pangandaran dari balik sebuah kedai di tepian pantainya.
“Kok marah lagi sih, Ayo lah, kita sekarang bertemankan?”
aku menatapnya sinis, “Sejak kapan berteman?” gerutuku, lalu kembali menatap riak-riak Pangandaran.
“Ok lah, kalau kamu marah, aku pergi saja, permisi” aku tak peduli. Meski dia beranjak pergi aku tak ingin menolehnya. Aku hanya diam tanpa memberikan respon apapun sebelum aku sadar jika aku memegang sebutir kelapa muda dan sadar kalau aku sedang berada terlalu jauh dari penginapan. Kulirik kantong rokku yang basah dan tak mendapati seperpun uang di kantongku. Mukaku terasa panas, ketika penjaga kedai meminta bayarannya kepadaku. Aku panik dan mencari-cari kemana pemudah sok tadi pergi.
Aku melihatnya berjalan pelan ke arah barat. Sepertinya dia sengaja berjalan sangat pelan. Ah, sial. “Ugi..., berhenti dulu...,” teriakku. “Sebentar ya pak” aku beranjak. Penjaga kedai itu mencoba menahanku. “ Saya ambilkan uangnya dulu”
 Aku berlari menyusul Ugi dengan cepet. Dongkol sekali aku ketika tahu dengan tenangnya dia berjalan, dan asyik mendendangkan lagu-lagu yang sepertinya mengejekku. “Berhenti aku bilang” Aku meraih tangannya, lalu merogoh saku di dadanya, dan menemukan selembar uang 50.000. “Enak aja, mau lari dari tanggung Jawab” mataku melotot. Aku berlalu dengan muka memerah. Dari mana aku mendapat semua keberanian itu? Dengan Danielpun aku tak pernah berani meminta, apalagi merogoh kantongnya seperti itu. Duuuh, malu.
Setelah aku bayarkan uang itu dan mendapat kembaliannya, aku kembali menghampiri Ugi mengembalikan sisa uangnya.
“Masukin lagi dong ke sakuku” mulutnya menyeringai nakal.
Aku tak habis akal, aku berikan saja kembaliannya untuk pengamen yang lewat di depan kami. “Eh aa’, satu lagu buat dia ya” sembari memberikan selembar 20.000-an kepada pengamen itu. Pengamen itu melonjak girang.
“Lagu naon teh?” tanya pengamen itu dengan logat Sunda yang kental.
“Apa ya? Ada Band bisa?” pengamen itu mengangguk yakin, “Pemujamu ya” sekali lagi pengamen itu menggguk. Dan suaranyapun mengalun merdu, menyayikan tiap bait syair dengan suara bass yang aku rasa mirip dengan penyanyi aslinya.
Kali ini ku t’lah jatuh ke dalam
Dosa begitu besar, terlalu mencintai begitu dalam
Mata itu berhasil hipnotisku,
Menjerat nafsu jiwa
Mengurungku ke dalam keindahan
Rasanya ingin malam ini menciummu, hingga lemas
Rasanya ingin malam ini memelukmu, hingga terlelap.
“Adek suka?” aku menyaksikan Daniel dengan kagum, aku baru tahu ternyata dia mahir memainkan alat musik petik itu. Aku mengguk dengan senyum mengembang.
“Adek sadar nggak kalau adek itu punya mata yang indah?” aku menggelang. Tak ada yang indah dari sisi manapun di sudut wajahku. Wajah khas pribumi indonesia keturunan Jawa, Jawa Timur yang dekat dengan laut utara pulau Jawa. Panas dan kering. Bisa dibayangkan jika kulit sawo matanglah yang aku miliki. Apalagi wajahku, benar-benar tak ada yang menarik. Aku bukan tipe wanita yang bisa membuat orang-orang mengalihkan pendangan ke arahku ketika aku berdiri di pinggir jalan. Wanita yang sama sekali tak menarik untuk dilihat. Hidung pesek dan lebar, bibir yang sama sekali tidak bisa dikata sexy, pipi yang tembem dan sering kali menjadi objek cubitan teman-temanku, juga mata yang tertutup kaca minus 2. lengkap sekali, wajah yang jauh dari kata sempurna ini terbentuk.
“Suka nggak nyadar dengan kecantikan sendiri ni” imbuh Daniel. Aku hanya yengir dan kembali menggeleng. “Kamu benar-benar istimewa sayang” kali ini suaranya seperti menggumam.
“Apa kak?” tanyaku meyakinkan apa yang barusan aku dengar.
“Tau ah, udah lewat” jawabnya ketus. Aku hanya bisa  menggelang-geleng, mencoba merangkai sendiri gumaman Daniel. Kamu benar-benar istimewa sayang. Lalu aku tersipu, merona.
Suara Daniel terdengar mengelun merdu melanakan. Aku tak berkedip menatap matanya yang serius memainkan gitarnya.
“Lagu ini buat kamu sayang” tanganya mencubit hidungku dengan tiba-tiba. Aku yang sedang serius menikmati wajahnya yang tampan tak bisa menghindar. Lalu kami tertawa bersama, saling menertawakan ketertarikan kami. Aku memintanya untuk kembali melanjutkan nyanyiannya.
Kau bagaikan simbol semesta alam
Dan aku pemujamu
Setiap saat bersimpuh di hadapmu.
Kau memegang semua kehidupanku
Keluar dari derita
Menuju kedamaian yang abadi
Pengamen itu memainkan gitarnya dengan serius.
“Daniel” Tubuhku mulai lemas. Aku limbung terhuyung.
“Lia kenapa?” Ugi dengan sigap menahan tubuhku. Memeluk tubuhku yang tiba-tiba lemas.
“Sudah, jangan nyanyi lagi..., suruh dia berhenti Ugi” aku mengiba. Ugi meminta pengamen itu pergi. Pengamen itupun beranjak dengan tatapan kebingungan. Sepertinya dia ingin bertanya apa yang terjadi, namun urung dia katakan. Dia memilih untuk tetap pergi, toh itu bukan urusannya.
Aku menangis sejadinya. Menangis di pelukan Ugi. Aku seperti tak bisa mengontrol emosiku yang seketika meledak, ketika memoriku kembali pada sosok Daniel Impeesa. Kenapa dia harus hadir di setiap sisi hidupku? Kenapa bayangannya selalu saja berkelibat di setiap waktu yang ada di hidupku? Aku ingin melepasnya, melapaskan semua kenangan tentang dia. Aku ingin melepaskan semua kengan tentang kamu, tolong bawa semua kenangan ini pergi.
Aku menceracau tak karuan. Mencoba menghapus semua kesertaan Daniel dalam hidupku. Aku rasakan pelukan ugi semakin kuat. Aku seakan tak peduli. Rindu yang menghadirkan kepiluan ini merenggut kesadaranku, tak peduli pada siapa saat ini aku menyandarkan diri. Aku hanya butuh menangis, menangis untuk melupakan semuanya.
I love you bunda” kecupnya di keningku. Membuat malam ini semakin spesial. Ku tatap lekat wajah lelaki di hadapanku ini, lelaki yang duduk bersebrangan meja denganku. Setiap kali aku menatapnya setiap kali pula aku jatuh cinta.
Happy Anniversary..,” ucapku manis dengan menyuapkan sesendok nasi goreng lada hitam  buatanku. Dia tersenyum menyambutnya. “Sayangnya papa lupa hari ini..,” aku merubah mimik mukaku dengan sedikit semburat kekecewaan.
“Bukan lupa sayang, tapi sedikit tidak ingat” matanya mengerling nakal. “Sedikit sekali” aku tertawa geli.
“Yang namanya lupa ya lupa saja papa, mana ada pakai kadar seperti itu” lalu kami tertawa lepas. Sebuah perjalanan panjang telah kami lalui. Kehidupanku yang berantakan telah luruh dibasuh cintanya yang tulus dan besar. Apa aku masih bisa mengatakan Tuhan tak Adil? Ah, Tuhan adil sekali. Dia tetap ada buatku.
Semua yang terjadi antara kita begitu ajaib sayang, takkan bisa dicerna oleh akal. Kehadiranmu adalah pahala nyata dari setiap kebaikan yang pernah aku perbuat. Teruslah mencintaiku, selamanya.
You are My Destiny” Bisiknya di telingaku, membuat aku melayang, lalu kami bersama, terbang menembus alam terindah bernama cinta.
Aku datang padamu
Bersama bau malam yang gelisah
Mengaromai hasrat yang tak tertahankan
Membuka setiap tabir kapasrahan
Melucuti seluruh helai kapatuhan
Lalu bersamamu
Mengepakkan sayap, Terbang jauh
Menjajaki cinta, Cinta tak terbatas
Menyebrangi ruang
Menghentikan waktu
Membuat iri mayapada
Lalu purnamapun memnyembunyikan wajahnya yang merah

Aku datang padamu
Membawa madu cinta yang memabukkan
Mengajakmu mengelilingi keindahan
Mencicipi wangi surga
Tak terbendung
Lepaskan semua
Lalu melayang, Tak tentu arah
Namun kembali dalam cinta
Cinta yang tak terbatas
Mendobrak akal
Melumpuhkan nyata
Lalu bintangpun berlarian, mencari kehangatannya sendiri

Aku datang padamu
Serupa bidadari yang kelelahan, Mencari perlindungan
Menyusuri dekapanmu yang hangat
Bergulat melawan dingin
Mencoba menarikmu pada satu asa
Hasrat yang jauh
Di atas jiwa yang telah melambung
Terlepas mengangkasa
Menyusuri langit ketujuh
Lalu terkulai dalam danau cinta
Cinta tak terbatas
Sedalam samudra
Setinggi nirwana
Lalu malaikatpun menutup mata Bersembunyi di balik sayapnya yang rapuh