Bookmarks
Archive
Categories
- Analogi (2)
- Belajar Desain (4)
- CORNER (1)
- Isi Hati (3)
- Jilbab QTa (1)
- NOVEL (8)
- SAJAK (3)
Minggu, 04 Maret 2012
Kamis, 16 Februari 2012
09 MEI (BAB VI Di NovelQ)
Published :
20.11
Author :
jilbab Q-ta
09 Mei
Semilir angin lembut Tasikmalaya menemani aktifitas kami pagi
ini. Kutatap pemilik mata elang itu dari balik cermin yang terpantul ke arahku.
Mata itu berkilatan seperti lesatan anak panah yang terlontar dari busurnya.
Tajam, tegas, dan penuh percaya diri. Matamu
mengalihkan hidupku dari apapun di dunia ini sayang.
Betapa masih jelas terpatri di ingatanku bagaimana dia datang
dengan cara yang ajaib dua tahun yang lalu. Seumpama Pangeran berkuda putih
dengan sekuntum mawar merah yang datang menyelamatkan sang putri dari kematian
mengenaskan dengan kecupannya. Dogeng Putri Salju yang dulu selalu aku hayalkan
akan terjadi di hidupku nyatanya benar-benar terjadi. Menghadirkan Pengeran
versi terindah dalam hidupku. Lihatlah Pangeranku itu, sedang asyiknya
merapikan dasi warna biru muda kesayangnya.
“Bunda, bantuin Papa ngerapiin dasi ini dong” aku tergagap.
Takut ketahuan kalau aku telah mencuri-curi pandang.
“Rapi banget sayang, ada acara apa di kantor?” tanyaku sembari
merapikan dasi biru suamiku. Dia tak pernah bisa melakukannya dengan baik.
“Ada
kunjungan Dinas dari Menteri Pendidikan Papa mesti mendampingi, mungkin sampai
malam Nda” jawabnya dengan tangan yang memeluk erat pinggangku.
“Duuuh, sayang ya, padahal Bunda mau mengadakan pesta kecil
untuk menyambut tamu sepesial” ada kado istimewa untuk pernikahan kita sayang.
Tetaplah di rumah mendampingiku.
“Siapa sayang?” tanyanya.
“Ah, Papa juga lagi sibuk. Enggak bakal bisa datang menyambut
juga kan ,
ngapain Bunda cerita, tapi yang pasti dia, seseorang yang istimewa ini, akan
sangat kecewa dengan Papa”
“Siapa sih Nda? Kalau memang harus ya nanti Papa usahakan,”
ucapnya dengan mimik muka serius. Aku terdiam lama memainkan emosinya.
“Coba tebak?”
“Mama?” jawabnya polos. Aku menggelang mantab.
“Emm, atau jangan-jangan temen-temen Five-in kamu ya?” suaranya
gugup.
“No,” aku kembali menggeleng mantap.
“Duh, siapa ya? Nyerah deh” ucapnya sembari mengecup keningku.
“Our Baby”
Ugi melonjak. Matanya berbinar meski tetap seperti tak percaya.
Dia meraba perutku, mencoba merasakan kehadiran makhluk kecil yang akan
meramaikan kehidupan bahagia kami. Aku mengangguk meyakinkannya.
“I love you so much” dia memelukku erat. Air mata yang
menetes menjadi ekpresi kebahagiaannya. Kami berdua hanyut dalam keharuan. Terimakasih Tuhan, telah semakin Engkau
perlengkap kebahagiaan kami.
“Bunda akan mengadakan apa nanti? Biar Papa cancel semua
jadwal hari ini untuk bisa menemani kalian sebanyak mungkin” suaranya terdengar
antusias sekali. Aku tertawa geli. Ugi melotot, tentu saja dia tahu jika acara
penyambutan tadi hanya sekenario untuk menyampaikan berita gembira ini.
“Dasar” pekiknya sembari mencubit hidungku. “Tapi Papa tetap mau
menemani Bunda dan bayi kita seharian ini” dia membuka kembali simpul dasinya.
“Lho? Kok? Kan Bunda tadi cuma godain Papa”
“Biar ah, Papa lagi kepingin nemenin istri tercinta”
“Nanti nyesel lho, enggak bisa ketemu sama Pak Menteri?”
Dia tertawah renyah. “Yang akan membuat Papa lebih menyesal
adalah membiarkan anak-istriku merana kesepian” ucapnya di sela-sela tawanya
yang menggema. Aku tahu itu buka sekedar
lelucon sayang, dan kami percaya kamu akan selalu ada di samping kami.
Selamanya.
Semuanya begitu indah. Cerita hidupku seakan berbalik arah.
Seperti titik yang saling bersebrangan. Hatiku melambung di puncak kebahagiaan.
Bagaimana tidak, aku punya cinta yang begitu besar dari Ugi, pun keluarganya
yang mau menerimaku apa adanya. Juga dengan teman-temanku yang luar biasa, yang
selalu mendukung langkahku, apapun yang aku lakukan. Termasuk mendukungku untuk
segera mengulang pernikahan kami dengen lebih sah di mata agama, maupun dalam
catatan resmi Negara.
“Ana tadi telphon Pa, Dia meminta aku pulang” aku mencoba
membuka percakapan di sela-sela waktu makan siang kami. Kami selalu
menyempatkan waktu untuk sekedar makan siang di tengah rutinitas dan kesibukan
kami masing-masing. Ugi yang sibuk dengan unit pelayannya sebisa mungkin untuk
menyempatkan waktunya, bagitu pula aku dengan bisnis fashionku.
“Nda kapan rencana pulang bulan ini?” tanyanya sembari menikmati
ikan tongkol asap kegemarannya.
“Mungkin besok atau lusa”
“Oh, ya udah tho, berarti malam ini Papa bantuin nda
kemas-kemas. Nda udah siapin laporan sebulan kemaren kan ?” aku mengangguk. Sebenarnya ada hal
yang lebih besar yang ingin aku utarakan, tapi hanya berputar-putar saja di
antara sendokan sayur bayam dan sambal terasiku.
“Emm, pa. Nda mau ngomong sesuatu”
“Sok atuh, naon nu bade dicarioskeun?[1]”
jawabnya, “Teu kegning disimpen bae Bunda sayang, engke bilih janteun bisul
lho[2]”
“Ana minta aku mengajak Papa juga” Ugi terbatuk. Tentu itu bukan
sesautu yang ingin didengarkannya siang ini. Tapi tetap harus diomongkan.
“Mereka ingin mengenal Papa”
“Bunda yakin akan mengajak Papa besok?” aku tak tahu harus
menjawab apa. Aku tentu ingin memperkenalkan suamiku ini pada teman-temanku.
Sudah 1 tahun lebih pernikahan kami, tapi mereka tak mengetahui apapun tentang
itu. Kami memang menikah secara siri. Hanya dihadiri keluarga dan beberapa
kerabat dari Ugi saja.
“Papa sibuk Bunda” jawabnya dingin tanpa mengalihkan
pandangannya dari laptop. Setelah percakapan makan siang yang tak menemukan
kesepakatan itu, kami terus saja berdebat.
Aku mulai terisak. Mataku memanas sembari menatap miris ke arah
suamiku. “Meraka ingin yang terbaik untuk kita Pa,” tangisku mulai pecah.
Suaraku terdengar parau.
Ugi mulai menatapku yang kuyuh dengan air mata berlinangan. Aku
tahu jika dia tak pernah bisa melihatku menangis, bahkan sampai terisak seperti
ini. “Jika bukan karena aku, lakukanlah demi anak kita Pa, aku tak ingin dia
lahir tanpa status kewarganegaraan yang diragukan, aku tak ingin anakku
mengalami kesulitan yang sama seperti yang pernah aku alami, malu karena tidak
memiliki status hukum yang jelas hanya karena orang tuaku tak pernah mau
direpotkan dengan pengurusannya” nafasku tersenggal-senggal. Aku berbicara di
sela tangisanku yang juga deras. “Bunda hanya ingin memberi yang terbaik untuk
anak kita Pa, tidak lebih”
Ugi meraihku. memelukku erat. “Bunda tadi ngomong apa? Papa
enggak bisa dengar, besok lagi kalau ngomong jangan sambil nangis, Bundakan
tahu kalau Papa tak pernah bisa melihat Bunda seperti ini” aku tahu saat ini
Ugipun terisak. Air matanya aku rasakan mengalir di pundakku. “Apapun yang
terbaik untuk Bunda, akan Papa berikan. Termasuk pernikahan terindah yang
takkan pernah bisa dibayangkan siapapun”
Tak butuh waktu lama, malam itu juga aku memberitahukan berita
gembira ini kepada teman-temanku. Ugi telah setuju untuk melegalkan pernikahan
kami meski dia harus siap dengan resikonya, melepas pekerjaan yang selama ini
dia jalani karena terikat kontrak kerja yang menurutku terlalu mengada-ada.
Pelanggaran HAM kataku waktu itu kepada Ugi.
“Jadi kapan rencananya Lia?” kali ini Icha yang berkomentar.
Suara di sebrang sana
gaduh sekali sepertinya mereka sedang berebut untuk saling berbicara.
“Rencananya tanggal 09 Mei besok, kalian mau kan bantu aku untuk nyiapain keperluan
nanti?”
“Pasti dong, mau konsep pernikahan apa? Apa perlu kami minta
bantuan sama Daniel?” lalu suara di sebrang sana semakin gaduh lagi. Sepertinya semua
mencoba memprotes Icha dengan ucapannya barusan.
“Ide bagus, Aku suka, tolong undang Daniel juga ya di pestaku
nanti, bagaimanapun kami dulu pernah berteman baik” semua teratawa. Kami
bahagia. Mereka sahabat terbaikku, aku takkan pernah bosan mengatakannya,
kalian sahabat terbaikku.
“Lia, aku sudah ke rumah bapak kamu di Tuban. Beliau siap kapanpun
kamu memintanya untuk datang” tak bisa aku ucapkan keharuan ini. Entah kenapa
aku merasa lega mendengar kabar yang Ana sampaikan. Aku merasa jika itu adalah
kabar baik untukku. Ana benar. Bagaimanapun anak perempuan tetap butuh bapaknya
untuk menuntunnya ke altar suci pernikahan yang agung. Aku terharu dengan
teramat sangat. Terimakasih Ana.
Tak terhitung batapa besar kebahagiaan yang aku rasa. Semua
begitu sempurna teratur dengan indahnya. Tak kusangka perjuanganku selama ini
untuk membujuk Ugi meresmikan pernikahan kami segera terwujud. Betapa terasa
sempurna pernikahan ini dengan status kami yang akan legal. Tak perlu
bersembunyi dari siapapun, tak usah menetupi dari apapun. Semua berhak tahu
atas kebahagiaan kami. Apa lagi yang
kurang Tuhan, sungguh tak ada.
“Bunda bahagia?”
“Bunda bahagia sekali sayang, Papa?”
“Kebahagian Bunda segalanya buat Papa” aku tersanjung. Kupeluk
tubuh suamiku dengan erat.
Kami mulai disibukkan dengan segala persiapan pernikahan kami.
Mulai mempersiapkan beberapa dokumen yang kami butuhkan hingga beberapa pernik
yang mama rasa harus ada di pernikahan kami nanti. Selain aku, mamalah orang
yang paling bahagia dengan kabar pernikahan ini. Beliau bahkan sampai menangis
menciumi pipi putra kesayangannya itu. “Akhirnya ya, Aa’ dari dulu harusnya ya
A’ “ ucap beliau.
Sejak rencana pernikahan ini kami beritahukan kepada beliau,
mama langsung saja repot mempersiapkan semua pernik yang mungkin akan kami
butuhkan. Sebenarnya kami tak ingin beliau serepot ini, tapi bahkan Ugi pun tak
bisa membendung keseriusan mama dalam mempersiapkan semuanya. Tak ketinggalan
Papa yang tak mau kalah. Laki-laki pendiam yang selalu bersahaja itu ternyata
juga bisa merasa gugup seperti itu. Merasa seperti akan menikahkan putranya
untuk pertama kali padahal sebelumnya beliau telah menikahkan dua
putra-putrinya. Kami sampai tertawa melihat beliau harus berulang kali salah
menyebut nama putra-putrinya karena saking gugupnya. Dan setelah merasa sedikit
tenang, beliau memulukku hangat sembari memenjatkan selaksa do’a yang membuat
aku menangis di dekapannya. “Barakallahu
lakuma, wabaroka a’laikuma, Wa Jama’ah bainakuma fl khoir[3]”
Aku meminta keluarga Ugi mendampingiku saat prosesi pernikahan
nanti. Mereka menyanggupinya dan seluruh keluargapun ikut sibuk mempersiapkan
semua keperluan kami saat akad nikah yang akan di gelar di Lamongan, desa
kelahiranku nanti. Bahkan suami Milla, jauh-jauh pulang dari Makassar
untuk turut mendampingku, pun dengan istri A’ Denis, kakak Ugi yang rela
meninggalkan rutinitasnya di sebuah rumah sakit daerah sebagai seorang bidan.
Di tengah mereka, Aku seperti memiliki keluarga yang lengkap,
selengkap kebahagiaan yang aku rasa, kebahagiaan memiliki orang tua, kakak,
kakak ipar, adik, adik ipar serta ponakan yang lucu. Ah, bahagianya. Benar-benar
bahagia. Tak ada kata lain selain bahagia. Syukurku dalam doa pada-Mu.
9 Mei 2011.
Malam terasa panjang. Aku seperti saja tidur begitu lama.
Tubuhku terasa melayang seakan tak memiliki tulang. Ku terhuyung bangun dari
ranjangku. Melihat sekeliling yang mulai silau. Sepertinya aku telah melawati
beberapa hari yang panjang dalam tidurku. Aku linglung dengan beberapa memori
yang terserakkan dipikiranku. Seingatku, aku sedang bersiap untuk
keberangkatanku ke Lamongan sore kemarin. Kami bahkan telah duduk di gerbong
kereta api yang yang akan mengantarkan kami ke sana . Kami masih sempat bercanda salama di
dalam gerbong, hingga aku terlelap dan tak tahu lagi apa yang terjadi.
Pandangku tertujuh pada beberapa kopor dan parcel hantaran yang
tertata berjejer di sudut kamar. Barang-barang yang kami persiapkan untuk acara
nanti. Nanti? Seketika kesadaranku terurai. Satu persatu peristiwa malam
sebelumnya teringat. Bukankah sebelumnya kami sibuk memepersiapkan sebuah
peristiwa yang akan begitu penting di hidupku. Bukankah harusnya kami sudah
berada di dalam kereta yang akan berangkan ke Lamongan? Apa mungkin semalam aku
hanya bermimpi jika aku sudah berangkat ke Lamongan?.
Aku melonjak dari tempat tidur. Mencari-cari sosok suamiku. Tapi
tidak ada siapapun di sampingku. Mungkin dia sudah terbangun sebelum aku.
Bagaimana aku bisa seceroboh ini dan bagaimana juga Ugi bisa sesantai ini
membiarkan aku tertidur sampai begitu lama. “sayang..?” aku mulai turun untuk
membangunkan yang lain. Mungkin merekapun terlalu bersemangat menyiapkkan
keberangkatan kami ke Lamongan hingga melupakanku yang masih tertidur di kamar.
Aku melangkah ke kamar tamu, kosong. Ke dapur, pun kosong. Rumah menjadi terlau
sepi untuk dihuni 9 orang dewasa dan satu bayi berumur 10 bulan. Ke mana mereka?
Pikirku.
Aku seperti orang bodoh yang tak tahu apa yang aku cari,
mondar-mandir dari satu ruang ke ruang yang lain dari lantai satu naik ke
lantai dua dan sebaliknya. Rumah ini tentu tak terlalu besar untuk tempat
bersembunyi yang bagus, hanya ada 4 kamar di dua lantainya. 2 kamar mandi,
ruang tamu, ruang tengah, dapur dan
halam belakang yang tak terlalu luas. Tapi semua nihil. Tak ada satupun suara
yang terdengar kecuali teriakanku yang memanggil mereka satu persatu.
“Ayolah Pa , ini enggak lucu” aku mulai gelisah. Ini
lelucon yang keterlaluan. Aku mulai tak suka permainan ini. Awas jika satu saja
diantara meraka aku temukan. Akan aku marahi habis-habisan.
Hampir satu jam aku berkutat dengan sudut demi sudut rumahku.
Aku kebingungan dan hampir menangis karena putus asa, aku tak lagi sanggup
berfikir jika ini lelucon. Pasti ada
sesuatu yang tak bisa dijelaskan hanya dengan meminta maaf Pa.
Aku sudah tak bisa berfikir lagi. Aku kembali ke kamarku dangan
berlari, sudah lebih dari 13 kali aku keluar masuk ke ruangan ini hanya untuk
memastikan jika mereka semua mengerjaiku. Air mataku benar-benar tak bisa
ditahan. Aku menangis sejadinya, berharap mereka kasihan, lalu muncul dan
berkata “surprise….”
Kluing, kluing
Handphoneku berbunyi. ID yang terlihat di sana ANTUNK
“Assalamualaikum, Hallo, Lia, kamu ada di mana?” nada suaranya
panik.
“Walaukum salam Na, aku masih di Tasikmalaya” tangisku semakin
menjadi.
“Lho? Kenapa? Kok bisa? Semalam kamu bilang sudah di stasiun,
terus pagi ini sudah ada di Lamongan? Ada
apa lia?” Gaduh sekali di belakang Ana. Mungkin acara sudah siap digelar.
“Aku masih di Tasikmalaya, aku enggak tahu kenapa aku masih
disini, A’ Ugi juga udah enggak ada, apa dia sudah di sana ?” tanyaku benar-benar seperti orang
bodoh. Ah, mungkin saja. Semua kemungkinan ada, termasuk kemungkina jika Ugi
dan keluarganya melupakan aku yang masih terlelap di rumah karena terlalu
bersemangat.
“Enggak ada, belum ada yang datang dari Tasikmalaya. Pak Hamim
bilang nunggu kalian dari jam 2 sampai pagi ini tapi belum datang juga. Ada apa sebenarnya?”
Ana mendapatiku tersungkur di sudut kamar. Aku benar-benar
memprihatinkan. Kuyuh dan lemas tak berdaya. Aku tak tahu apa yang sebenarnya
terjadi, apa maksud Ugi memperlakukan aku seperti ini? Jika memang dia tak
menghendaki pernikahan ini terjadi harusnya dia tak usah memaksakan semuanya.
Aku lunglai.
Ana memelukku erat, sangat erat. Aku hanya bisa merasakan sakit
di lenganku namun tak mampu lagi meminta Ana melepaskan pelukannya. Aku tak
mampu lagi menangis, semua begitu kelam aku rasa. Mataku terasa kering, dadaku
sesak dan terasa penuh dengan pertanyaan yang belum aku tahu jawabannya.
Malam itu juga Ana membawaku pulang ke Surabaya. Dia tak lagi
bertanya setelah semua pertanyaannya tak ada yang mampu aku jawab. Aku tak lagi
seperti mayat hidup. Tapi aku sudah benar-benar mati. Seperti tak bernyawa dan
dingin.
Rabu, 15 Februari 2012
TENTANG DIA (BAB VI di NovelQ)
Published :
20.47
Author :
jilbab Q-ta
Tentang Dia
Namanya Mochammad Lugina. Seseorang yang hadir secara tiba-tiba
dalam perjalan melupakan cintaku bersama Daniel, cinta yang pernah membuatku
terluka dengan sangat.
Tak ada yang benar-benar
istimewa darinya. Seperti jejaka Sunda pada umumnya, dia memiliki kulit kuning
langsat yang halus. Wajahnya bulat dengan pipi merona seperti bayi. Akan
terlihat lucu sekali ketika dia tertawa. Matanya yang sedikit sipit akan
membentuk bulan sabit dengan pipinya yang bulat memerah. Bibirnya ranum seperti
seorang gadis, pertanda dia tak suka merokok. Matanya tak terlalu lebar,
Cenderung sipit malah namun begitu dia memiliki mata yang berkharisma.
Pandangannya tajam penuh perhatian, namun menenangkan, mata yang seolah-olah
berkata, kamu akan aman bersamaku.
Anak kedua dari 4 bersaudara. Semua saudaranya laki-laki,
kecuali adiknya yang ketiga. Sebuah susunan kakak beradik yang unik. Aku sering
bilang pada Ugi jika aku selalu iri dengan Milla, adik perempuannya. Akan
sangat merasa aman di antara para jagoan yang siap melindunginya. Yang aku
sendiri tak pernah merasa dilindungi siapapun sebelum aku memiliki Ugi. Di
antara mereka berempat, Ugi dan adik bungsunyalah yang belum menikah. Milla
bahkan sudah memiliki seorang putra yang sangat lucu berusia 10 bulan, Rizky
namanya.
Dia bekerja di salah satu unit pelayanan masyarakat di bidang
kesejahteraan keluarga. Kepanjangan tangan dari dinas sosial kota Tasikmalaya. Tugasnya memberikan
penyuluhan tentang bagaimana menjadi keluarga yang sejahtera secara ekonomi
maupun sosial. Basicnya sebagai mantan aktivis sebuah LSM kemasyarakatan
memudahkan tugasnya menyelami berbagai masalah sosial yang ada di masayarakat.
Tak ada yang benar-benar istimewa darinya, namun cintanyalah
yang membuatnya begitu istimewa. Bagiku, mencintainya, seperti memiliki semua
yang ada dalam ramuan ajaib bernama cinta. Ada tawa, sedih, senang, duka, kebersamaan, kecemburuan
dan apapun yang ada dalam kehidupan. Aku memiliki kisah cinta yang sempurna
dengannya. Kami memiliki kisah cinta yang wajar sebagaimana harusnya meski
kadang penuh kejutan.
“Sudahlah nda, kayak anak kecil ah” satu kisah tentang bagaimana
besarnya cemburuku padanya. Aku cemberut. Terlanjur termakan curiga. “Papa
belajar jujur sama Nda” aku tetap tak menjawab. Memalingkan muka menatap ke
arah luar jendela peraduan kami.
“Papa yang ganjen” ucapku terbawa emosi. Aku selalu lepas
kontrol untuk urusan menangani emosi seperti ini.
“Aduh Nda..., Papa nggak pernah bermaksud seperti itu. Kak Erwin
yang memperkenalkanya pada Papa” sekarang dia mencoba mengkambing hitamkan
sahabatnya yang sudah dia anggap seperti kakak itu. Mana ada persahabatan
seperti itu, mencoba memakankan teman. Aku menggerutu sendiri dalam hati.
“Tapi Papa mau saja menerima perjodohan terselubung itu kan ?” tanyaku semakin
kalut.
“Apa Papa bisa menolak kalau Kak Erwin yang memperkenalkannya
Nda, Bunda fahami posisi Papa dong, Papa nggak sampai hati sama Kak Erwin kalau
harus menolak”
“Itulah kesalahan Papa, Papa tak pernah memperkenalkan aku
kepada temen-teman Papa. Kita sudah seperti ini tapi tak satupun teman Papa
yang Papa perkenalkan pada Nda” Aku benar-benar lost control. Hanya karena
cemburu pada seorang wanita yang sengaja dikenalkan Kak Erwin pada Ugi yang
status realnya memang masih sendiri. Kak Erwin tak tahu kalau ada aku di sisi
Ugi. Ada aku
yang mengisi hari-harinya.
“Kita belum siap bertemu siapapun Bunda” aku hanya bisa menangis.
Dia memelukku erat, seakan itulah ucapan maafnya yang terdalam.
Atau sebuah kisah lain dimana aku hampir saja membuat Ugi
terbunuh. Hanya karena sebuah sms dari seorang wanita yang mengaku memiliki
perasaan lebih padanya. Aku muntab. benar-benar marah waktu itu.
“Siapa Lilyana?” aku mencoba untuk tidak menangis dan
berpura-pura untuk terus melanjutan acara memasakku. Ugi terbatuk mendengar
nama Lilyana disebut. Dia mungkin tak pernah mengira jika aku bisa tentang
mengetahui nama itu.
“Nda tahu dari mana tentang Lilyana” tanyanya dengan gusar.
“Makanya, Handphon jangan pernah ditinggal di rumah Papa sayang, aku jadi bisa lihat
sms-sms yang menggelikan itukan” aku masih berlagak tak sedang terjadi hal
besar. Yang sesungguhnya hatiku sudah ingin menyemburkan magma kecemburuan yang
luar biasa.
“Sanes sasahana Bunda,
mung rerencangan lami[1]
”
“Papa masih ingatkan, kalau Bunda tidak pernah suka dibohongi?”
aku merasa bawang merah yang aku rajang menjadi 10 kali lipat pedasnya,
menusuk-nusuk mataku.
Ugi terdiam. Tak mencoba mendebatku. Namun hal itu tak membuat
aku lebih baik. Aku hanya ingin penjelasan. Siapa wanita yang mengaku
tergila-gila pada Ugi itu. Aku mulai terisak. Ugi sadar hal itu, mermbuat dia
bergeming. “Papa berkata benar Nda”
“Apa aku bisa percaya kalau aku sudah baca sms mesra Papa untuk
wanita itu?” tangisku pecah. Bagaimana mungkin aku percaya jika wanita yang di
ID Numbernya bertuliskan dengan nama Lilyana itu bukan siapa-siapa. “Papa tak
pernah bilang punya teman bernama Lilyanan” kemesraan benar-benar terlihat
bagaimana cara wanita itu mengagumi Ugi. Tentu siapapun yang membaca sms-sms
itu akan tahu betapa dia begitu mencintai Ugi, pun dengan balasan Ugi sendiri,
penuh dengan pujian dan sanjungan mesra kepadanya.
“Kamu salah paham Nda, tidak ada apa-apa dengan Lilyana, dia
hanya salah satu teman lama Papa. Itu saja”
“Apa aku harus percaya kebohongan itu pa?” pisau yang aku pegang
tiba-tiba menjadi perisai dalam pertengkaran ini. Aku tanpa sadar mengacungkan
pisau itu ke arah Ugi. Ugi yang mengira aku akan berbuat nekat, reflek
mengambil pisau itu dari tanganku dengan paksa. Aku yang terkaget dengan
reaksinya langsung mengibaskan pisau itu ke sembarang arah, yang akibatnya
lengan Ugi terluka dan berdarah.
Aku langsung histeris. Ku tatap wajah Ugi yang kesakitan. Aku
berlari mencari apapun yang bisa mencegah darahnya terus keluar. Memberika
pertolongan pertama dan menelephon ambulance untuk membawa kami ke rumah sakit.
“Enggak usah ke rumah sakit Nda, cuma luka sedikit saja kok” aku
membersihkan lukanya dengan air mata berderai. Antara rasa bersalah dan
kesakitan melihat luka di lengan kekasihku.
“Maafin Nda pa, Nda ngga sengaja. Nda keget melihat Papa
tiba-tiba meraih pisau di tangan Nda, padahal Nda nggak ingin melakukan apapun”
dia raih tubuhku. Di bawanya aku ke dadanya yang berdegup kencang.
“Percaya sama Papa Nda, tak ada siapapun selain Nda di hati
Papa. Hanya Bunda” Kami menagis bersama dalam keharuan. “Kalaupun Papa harus
berselingkuh, Papa hanya akan menyelingkuhi bayangan Bunda”
Lihatlah betapa besar cintaku padamu
sayang. Bahkan dengan bayanganku sendiripun aku bisa cemburu.
Pun bagaimana dia menujukkan rasa cintanya dalam bingkai cemburu
yang pas, tak berlebihan namun membuatku merasa benar-benar dicintai.
“Mau dicat apa kamar kita nda?” Kami kebingungan memilih pulahan
daftar warna di sebuah toko bangunan di ujung jalan RE Martadinata. Dia sedikit
cemberut karena diskusi panjang kami sampai detik inipun tak menemukan titik
temu.
“Eem, Beauty Romantic”
pekikku setelah berfikir cukup lama. Raut Ugi langsung berubah. Meski mencoba
tenang, namun gurat ketidaksukaan begitu terasa.
“Nah.., bagus itu. Cocok untuk kamar pengantin” Koh Ayong, sang
pemilik toko menimpali, membuat Ugi yang ingin menolak urung menyampaikan.
“Anak muda sekarang pinterlah pilih warna” imbuk Koh Ayong dengan logat
tiong-hoanya yang kental. Ugi semakin cemberut.
“Gimana pa?” tanyaku mencoba tak menghiraukan perubahat raut
diwajahnya.
“Terserah Bundalah” jawabnya sembari ngeloyor pergi, membuat aku
dan Koh Ayong melongo.
Sepulangnya dari toko bangunan itu Ugi tak menyapaku sedikitpun.
Dia langsung menuju kamar dan merebahkan tubuhnya. Aku hanya bisa menarik nafas
panjang.
“Papa kenapa sih?” kuusap pungunggnya sembari menatap lekat
wajahnya, mencoba menetralisir sebuah kecemburuan yang mungkin saja dia rasakan
saat ini.
“Kamu masih ingat Daniel ya?” tebakanku benar, kamu sedang cemburu sayang.
“Masih,” jawabku tenang. Dia kontan memutar tubuhnya, semakin
membelakangiku. “Lho? Kok marah?” aku suka gayamu yang seperti anak kecil ini
sayang.
“Cat saja semua ruangan di rumah ini dengan warna favorit
kalian” nadanya sedikit meninggi, aku terkaget. “Beauty Romantic…, hmm, sok imut banget” ungkapnya penuh cibiran.
Beauty Romantic,
tema warna yang dulu aku dan Daniel rencanakan akan menghiasi setiap sudut
rumah tinggal kami, warna yang kata Daniel akan menjadi simbol kemesraan. Namun
bukan berarti Daniel masih ada di hati dan pikiranku saat ini. Aku hanya suka
warna itu, seperti wanita pada umumnya. Warna-warni pink, ungu, maroon atau
gradasinya. Warna-warna cinta yang romantis. Tak ada yang salah dengan warna
seperti itu aku kira. Aku hanya tersenyum di balik tubuh Ugi, kekasihku yang
sedang cemburu.
“Duuh, ada yang lagi cemburu ni…,” aku mencoba merayu dengan
memeluknya dari belakang.
“Siapa yang cemburu?”
“Papa” jawabku dengan cepat. Dia langsung membalikkan tubuhnya
dan menatapku lekat.
“Sekarang jawab dengan jujur, kamu masih ingat-ingat Daniel
nggak?” dia seperti ingin mengintimidasiku.
“Eitss,” aku menjauhkan wajahnya yang terlalu dekat dengan
mataku. “Masih ingat iya, tapi kalau untuk mengingat-ingat, maaf, sudah enggak
ada waktu. Waktu Bunda sudah habis hanya untuk mengingat satu cinta yang saat
ini menatap Bunda dengan garangnya” dia semakin melotot. aku balas melotot, lalu
kami sama-sama tertawa, menertawakan kekonyolan kami.
Seling cemburu, saling mengungkapkan bahasa cinta yang luar
biasa.
Kehidupanku di Tasikmalaya bisa dikatakan baik, teramat baik.
Usaha yang aku kembangkan, maju pesat. Pemasarannya mulai melebar ke beberapa
daerah di sekitar Tasikmalaya. Five-in mulai dikenal sebagai life style fashion kota berjuluk Delhi Van Java itu. Dengan mulai banyaknya outlet-outlet yang kami
buka, dibantu dengan tangan dingin Ugi dalam menentukan segmen pasar, membuat
usahaku berkembang dengan cepat. Ugi memang jeli membidik trend yang sedang ada
di pasaran. Industri kreatif yang aku jalankan berjalan dengan grafik yang
terus meningkat karena pengaruhnya. Tak percuma dia pernah memdalami ilmu
psikologi pasar di bangku perkuliahan dulu. Nilai IPK nya yang Summa Cumlaod
adalah bukti pengakuan Universitas Siliwangi kapadanya sebagai mahasiswa
berprestasi. Kamu memang hebat Tuan Penolong.
Teman-teman Five-inku pun dibuat kagum. BEP 100% yang aku
janjikan kembali dalam waktu dua tahun bisa terpenuhi hanya dalam kurun waktu 1
tahun saja. Mereka memujiku sebegai marketing didikan alam. Mereka tak pernah
tahu jika ada sesosok istimewa di sisiku. Sosok yang selalu mendukungku, apapun
itu. Mereka tak tahu jika ada Ugi di sampingku.
Hingga suatu saat,
Ana menatapku tajam. Seperti ingin menghukumku atas sebuah
kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak bisa
membuat semua lebih baik. Saat ini, hanya inilah yang bisa aku lakukan.
“Kamu sudah berfikir sebelum mengambil keputusan itu?” Ana
terlihat menahan kemarahan yang besar. Kerutan di dahinya bisa aku lihat dengan
jelas.
“Menurutmu apa aku punya pilihan lain?” jawabku membela diri.
“Kamu tentu punya pilihan di setiap keadaan” suaranya terdengar
meninggi meski dia membuatnya setenang mungkin.
“Kamu nggak mengerti situasiku Na,”
“Kami memang tak mengerti apa yang membuat kamu mengambil
keputusan seperti ini, juga dengan hubungan apa yang sedang kalian jalani saat
ini” Ana beranjak meninggalkanku. Aku terisak. Aku tahu dia begitu kecewa
denganku.
Tucha memelukku erat. Aku membalasnya pun dengan demikian erat.
“Kami sayang sama mbak Lia” Tucha terisak bersamaku.
“Pasti kalian kecewa denganku”
“Bukan kecewa mbak, tapi kami ingin yang terbaik untuk mbak”
Tucha semakin mempererat pelukannya.
Saidah menyodorkan segelas air putih kepadaku. “Sudahlah,
tenangkan dirimu dulu. Kita bicarakan lagi nanti” ucapnya sembari membelai
pundakku.
Aku benar-benar merasa bersalah dengan sahabat-sahabatku ini.
Apa aku bisa disebut teman yang baik untuk mereka padahal meraka selalu ada
untukku? Aku seperti tak tahu balas budi. Seperti seseorang yang tak pernah
mengenal rasa terimakasih. Tapi bukan seperti itu keadaanya. Aku hanya ingin
hubungan kami, hubunganku dengan Ugi yang sudah begitu jauh tak lagi menumpuk
dosa. Bagaimana kami sudah terlalu jauh mengartikan cinta dalam bungkus hasrat
sebagai dua insan muda yang tengah dimabuk asmara .
Suasana ketika itu grimis setelah hujan lebat. Rintik-rintik dan
dingin. Aku melihat Ugi tersandar di sofa ruang tengah rumah yang aku beli
sebulan setelah aku putuskan pindah ke Tasikmalaya. Kesibukannya dengan
penyuluhan di pedalaman Tasikmalaya membuatnya terlihat sangat letih.
Lemon tea hangat adalah
kesukaannya. Aku buatkan dengan sedikit menambahkan gula batu. Pas untuk sore
yang dingin.
“A’, diminum tehnya, mumpung masih hangat” kubelai bahunya,
mencoba membangunkannya.
Dia memberiku senyuman di tengah kelelahannya dengan mata yang
masih memerah. “Eem, mana sayang?” aku berikan secangkir teh yang telah aku
siapkan sembari membersihkan peluh di pelipisnya.
“Cape ya A’?” tanyaku.
“Iya sayang, hari ini ada penyuluhan di daerah Taraju,
jalanannya berkelok-kelok, di kanan kiri jurang dan tebing, ada beberapa titik
bekas longsor. Jadi agak cape”
“Laper nggak?”
“Laper banget” jawabnya polos. Aku berniat beranjak namun baru
saja akan berdiri tangannya mencegahku. “Mau kemana?”
“Mau nyiapain makan buat Aa’” jawabku.
“Enggak usah, temani saja Aa’ di sini” dia tarik tanganku dengan
tenaga yang sedikit berlebihan menurutku. Membuat aku limbung dan jatuh
menindihnya.
“Aa’, iseng ah, lepasin. Malu dilihat orang” tapi dia tak
menjawab. Dia hanya menatapku lekat. Dan sekali lagi, mata itu membatku
terlena. Membuat kami terbang ke arah lain dari cinta.
Ya Allah,
Jika malam ini aku hadir dalam sisi-Mu
sebagai manusia yang salah
Maka ampunkanlah, sebegaimana sifat asih-Mu
Hamba datang dengan penuh kepasrahan atas
takdir yang Engkau gariskan,
Atau jalan takdir yang hamba pilih
Ya Allah,
Hamba haturkan selaksa permohonan untuk
sebuah kegundahan
Resah hati yang membara, menjadi kian parah
Lalu jiwa terparut luka, dalam perih yang
tak terhingga
Ya Allah
Hamba mencintainya, dengan teramat sangat
Seperti cinta Zulaiha kepada Yusuf, seperti
cinta Muhammad kepada Khodijah
Hanya caraku mencitainya salah, tak setulus
cinta Adam kepada ibu Hawa
Ya Allah, untuk cinta yang lain ini,
Ampuni caraku memperlakukannya, pun caranya
memperlakukanku
Kami hanya manusia yang begitu terlupa
karena sebuah kefanaan.
“Ambil ini, ini nomor telepon bapak kamu” Ana menyodorkan sebuah
kertas ke arahku. Aku hanya menatap benda itu bergantian dengan raut wajah Ana
yang datar. Ana tentu tahu jika aku tak pernah suka orang itu disebut-sebut
dalam hidupku, apa lagi harus menghadirkannya di kehidupanku lagi.
“Setahuku, keadaanmu belum melunturkan ketentuan syariat yang
harus kita laksanakan sebagai seorang yang beriman” dadaku naik turun. Menahan
nafas yang tiba-tiba berat.
“Kami tak melakukan kesalahan dalam pernikahan ini” jawabku.
“Menurutmu apa hukum pernikahan yang salah satu saja rukunnya
tak terpenuhi?” kali ini aku rasakan tatapan Ana seperti menghakimiku. “Tak
usah dijawab, aku yakin kamupun tak ingin menjawabnya, bagaimanapun setiap anak
perempuan tetap butuh wali sah untuk menikahkannya”
“Wali hakim sudah cukup untuk menikahkan kami” jawabku dengan
nada tinggi.
“Jangan hilangkan haknya sebagai bapak kandungmu Lia. Dia punya
hak untuk menikahkan anak perempuannya, dan kamu tak berhak menggantikannya
dengan siapapun selama dia masih ada”
“Dia telah membuang haknya saat dia menelantarkanku”
“Kamu bukan Tuhan yang bisa menghukum seseorang. Biarkan itu
menjadi hak prerogatif Tuhan. Kami tidak akan pernah membiarkanmu menjadi
pelanggar peraturan Tuhan”
Aku tak sanggup lagi berkata-kata. Semua tertumpuk dalam dadaku
yang sesak. Aku merasa menjadi seorang pendosa dengan deretan kalimat yang Ana
ucapkan. Aku menangis, namun hanya bisa didengar oleh hatiku.
Ana meraih tanganku. Menggenggamnya erat, penuh kasih. “Jika
kamu masih berat untuk menghubunginya, biar aku yang memintanya untuk
menyelesaikan kewajibannya, mengantarkan putri cantiknya ini kepelaminannya
yang suci, dengan syari’at yang agung”
Selasa, 14 Februari 2012
AKU, KAMU DAN KEBAHAGIAAN (BAB V di NovelQ)
Published :
19.00
Author :
jilbab Q-ta
Aku,
Kamu dan Kebahagiaan
“Lia, ini sudah terlalu lama, pulanglah”
suara Ana di ujung telepon terdengar gusar. “Apa kamu lupa kamu punya banyak
tugas di sini?” bukan itu yang ingin Ana katakan. Ana hanya ingin mengatakan.
Jangan buat kami hawatir teman. Dia tak pernah bisa mengatakan sesuatu
secara verbal dan jelas.
“Iya, aku akan segera pulang. Aku juga tak
ingin menghabiskan lebih dari setengah tabunganku di sini” jawabku sekenanya.
“Temenku yang di Bandung bilang dia nggak
ketemu kamu di stasiun? Benar itu? Terus kenapa handphone kamu nggak aktif selama
lebih dari dua minggu?” Ana tetaplah Ana. Sahabat terhebat yang pernah aku
miliki. Dia tak perlu mengatakan jika dia begitu teramat-sangat hawatir kerana
aku tiba-tiba menghilang, tapi dari pertanyaannya itu aku tahu dia lebih dari
sekedar hawatir. Aku baik-baik saja kawan. “Kapan pulangnya? Biar kami jemput
di bandara”
“Naik kereta saja. Aku lebih suka pakai
kereta”
Sudah waktunya aku kembali.
Sahabat-sahabatku menantikan kehadiranku. Aku sudah membuat meraka terlalu
khawatir dengan hilangnya aku selama lebih dari dua minggu. 17 hari tepatnya.
Keputusanku untuk menyendiri memang tak bisa diganggu gugat. Tidak juga bantuan
dari teman Ana yang berada di Bandung. Bagiku itu bukan sebuah bantuan,
melainkan bentuk lain dari pengawasan yang Ana siapkan dan aku benar-benar
sedang tidak ingin ada pengawasan dalam bentuk apapun. Lalu aku tak pernah
menemuhi Edy, teman yang Ana minta menemaniku selama di Pangandaran.
Ugi memandangiku tanpa berkata apapun. Kami
sama-sama terdiam. Lama sekali. Lebih dari
dua minggu ini dia adalah tempatku mengadu. Entah kenapa aku merasa
nyaman berbagi cerita dengannya. Pengalamanku yang cukup menyakitkan tentang
orang-orang di sekitarku membuat aku menjadi pribadi yang sulit menerima orang
baru di hidupku, tapi tidak dengan Ugi. Dia berbeda. Dia bisa membuatku merasa
nyaman untuk menceritakan apapun.
“Aku pulang ya A’, terimakasih telah dijaga
selama di sini” dia hanya menatapku. Tak ada satu katapun yang terdengar
darinya. “ Kenapa diam? Kan
kita masih bisa ketemu lagi. Insyallah,”
Tak bosannya kami menyaksikan semburat
senja yang indah di ufuk barat. Seperti lembaran permadani jagad raya yang
menutupi langit dengan warnanya yang anggun. Kemerahan bersulam emas dan
sedikit gumpalan awan abu-abu berlalu-lalang. Bertambah cantik dengan pantulan
cahaya matahari di gelombang laut yang tenang, Seperti dilatasi dua benda yang
sama-sama ingin menunjukkan kecantikannya. Ditambah semilir angin Pangandaran
yang menenangkan itu, membuat semua beban serasa menguap. Kamu
benar A’, aku telah jatuh cinta dengan semilir angin pangadaran.
“Jadi kapan pulangnya?” suaranya terdengar
serak. Tatapannya tak beralih dari senja yang kemerahan itu.
“Besok,” jawabku
“Tetaplah di sini” ucapnya lirih.
“Aku ingin, tapi aku punya banyak tanggung
jawab di Surabaya .
Aa’ kapan-kapan mainlah ke Surabaya .
Aku yang akan menemani” kenapa jadi aku sekarang yang membujuknya? Terkadang kamu seperti anak
kecil juga ya Tuan penolong. “Atau aku yang akan ke sini lagi”
Tak ada yang menduga aku bisa pulih sedemikian cepet. Ana
terheran ketika aku berlari dengan senyum mengembang menyambut pelukannya. Dia
menatapku penuh tanya ketika kami bertemu untuk pertama kali di stasiun Gubeng,
seperti tak percaya menyaksikan 1800 perubahanku. “Nice to see u sista” ucapnya sembari
memelukku erat namun dengan nada yang masih tak yakin.
“Semua baik-baik sajakan?” tanyanya untuk kesekian kali, dan aku
mengangguk mantap meyakinkannya jika aku tetap temannya yang sama, yang 17 hari
lalu dia lepas kepergiannya dengan sisa hidup yang sepertinya tak akan lama.
Ku lihat juga semua temanku datang menjemput. Lengkap. Beserta
Chofi, suami dari Tucha. “Mbak Lia.., kangen” tucha memelukku erat. Seperti
telah lama sekali kami tak bertemu. Setelah itu Icha dan Saidah. Semuanya
menyambutku dengan bahagia.
Sudah kuputuskan untuk mengubur kisah itu dalam. Menyimpan masa
lalu itu dengan rapat. Tak perlu lagi aku mengingat seseorang yang mungkin kini
tak lagi mengingatku. Aku bisa melakukan itu pada kedua orang tuaku, juga
keluargaku, mana mungkin aku tak bisa melakukannya pada seseorang yang
sebelumnya juga adalah seorang yang asing.
Setelah itu, aku kembali pada rutinitasku. Sebagai manager
marketing courporate kami. Kangen sekali aku pada ruangan kecilku di lantai
tiga ruko yang kami beli dengan susah payah ini. Ruko yang kami bilang sebagai
cikal bakal dari gedung pencakar langit yang akan kami miliki nanti.
Semua tetap sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Tetap
berantakan dengan kertas catatan yang tergelatak di sembarang tempat. Hmm,
ternyata aku memang tak pernah bisa rapi. Aku menghela nafas berat, lalu
menertawakan kekonyolanku sendiri. Sepertinya teman-temanku tidak menyentuh
sama sekali barang-barangku di ruangan ini. Aku memang tak pernah suka orang
lain memindahkan barang-barangku tanpa seizinku. Dan itu yang mereka lakukan
untukku. Tak memindahkan satu barangpun dari ruangan ini.
Rasanya sudah lama sekali aku tak melihat kesibukan di jalan
raya Karang Menjangan dari jendela ruanganku. Sesuatu yang dulu sering aku
lakukan sebelum cinta Daniel menjadikanku mayat hidup karena perpisahan itu.
Aku selalu suka menikmati keramaian jalan Karang Menjangan. Jalan utama yang
persis di depan ruko kami. Tak terlalu padat dengan aktivitas lalu lintas.
Hanya sesekali dan pada jam tertentu saja kepadatan terjadi di sana , dan itupun tak terlampau parah
menurutku. Kendaraan-kendaraan itu seperti sedang berlomba menaklukan waktu.
Saling berkejaran dengan satu tujuan pasti, untuk segera menemui arah lari
mereka. Aku menyaksikan deretan itu, seperti melihat pada diriku sendiri.
Melihat kaki kecilku yang sedang berlari mengejar dimensi hidup untuk segara
sampai di tujuan hidupku, berlari menjemput mimpi. Ah, sok dramatis sekali.
Lokasi ruko kami
yang tepat menghadap jalan raya itu
menjadi sangat strategis dengan diapit antara rumah sakit umum daerah Dr.
Soetomo dan beberapa perguruan tinggi terkenal di jawa timur. Tentu saja hal
itu memberi dampak yang sangat baik untuk bisnis yang sedang kami kembangkan.
Akses yang mudah adalah salah satu syarat yang harus ada untuk pengembangan
bisnis seperti yang sedang kami geluti.
Kluing, handphoneku
berbunyi. Sebuah sms masuk.
“Pagi Lia manis,” dari nomor baru. Aku tak pernah suka membalas
sms-sms iseng seperti ini. Aku biarkan saja. Aku kembali menikmati pemandangan
di bawah sana .
Kluing, Kembali satu sms
aku terima.
“Aku tahu kamu tak akan membalas sms seperti ini” aku mulai
penasaran. Tapi aku mencoba tak perduli. Jika orang itu perlu pasti akan
mengatakan kepentingannya menghubungiku. Belum sempat aku menikmati lagi pemandangan
di bawah sana ,
satu sms kembali aku terima. “Maukah kamu mentraktirku es kelapa muda di
pinggiran pantai Pangandaran?” aku terbelalak. Ah kamu, suka sekali memberiku
kejutan.
Segera kudial nomor baru itu dan mendapati suara cekikikan dari
seberang sana .
“Assalamualaikum Manis” entah kenapa aku seantusias ini menyambut telepon
darinya.
“Waalaikum salam” jawabku. “Jahat ah, aku pikir siapa tadi,
jangan suka iseng atuh”
“Keisengan yang paling aku suka ya ngisengin kamu” aku dengar
tawanya yang renyah. Tawa yang membuatku rindu pada pemiliknya. Ups? Rindu?.
“Kok Aa’ tahu nomor teleponku?” seingatku aku tak pernah
memberinya nomor handphone. Dari mana dia mendapatkannya?
“Dunia sudah maju manis, nggak sulit buat ngelacak keberadaanmu”
lalu kami tertawa bersama.
“Di Tasikmalaya? Kamu yakin?” Saidah mencoba menebak
keseriusanku untuk membuka cabang di sana .
“Enggak boleh” Saidah menolak usulku. Dia tahu repotasiku ketika menghadapi
permasalahan, lari dan menghilang atau memilih menyelasaikannya dengan caraku
sendiri, apapun bentuknya. Apalagi untuk permasalahan seberat kemaren, mungkin
Saidah khawatir jika aku akan berbuat nekat dengan cara yang tidak akan mereka
tebak sebelumnya.
“Usaha kita di sini sudah bisa berdiri tanpa aku, atau aku bisa
mengontrolnya di Tasikmalaya nanti” aku mencoba melobi sahabat-sahabatku ini.
Mereka tampaknya masih belum mempercayaiku apalagi ditambah dengan peristiwa
menghilangnya aku selama 17 hari.
“Kita baru memulainya di sini Lia, mana mungkin kamu sudah
meninggalkannya” Saidah bersikeras.
“Kita perlu perluasan secara nasional” jawabku diplomatis.
“Kita kuatkan dulu yang di sini”
Icha melengkapi. Mereka tentu tahu, aku tak mudah dipatahkan tanpa
argumentasi yang lebih kuat dari keputusanku. “Jangan terlalu terburu-buru” Icha
menambahi.
“Aku yakin usaha ini akan berdampak baik. Tasikmalaya daerah
yang startegis teman” apa kalian sudah tahu kalau aku juga ingin menjauh dari
hiruk-pikuk Surabaya ?.
“Kenapa dengan Tasikmalaya?” Ana memancingku dengan analisis
yang mungkin bisa mematahkan
keteguhanku.
“Karena Tasikmalaya memiliki potensi di bidang yang tengah kita
jalani. Pariwisata di sana
sedang berkembang baik. Banyak investor yang menilai Tasikmalaya sebagai daerah
dengan prospek investasi paling cerah dibandingkan daerah lain. Pemerintah
tengah mengembangkan daerah ini untuk menjadi daerah tujuan wisata dan belanja.
Kiblat wisata dan belanja bukan lagi melulu ke Bandung
atau Jogjakarta ,
melainkan sudah bergeser ke selatan jawa, yaitu Tasikmalaya.” jawabku dengan
logika ekonomi yang aku pelajari. Aku tak berlebihan karena memang itulah
kenyataannya. Tasikmalaya memiliki potensi yang baik untuk pengembangan usaha
industri kreatif kami. Pun memiliki cintaku yang tertinggal disana. Cinta yang
takku tahu kapan mulai berseminya. Mungkin sejak ciuman pertama itu, aku
langsung jatuh hati pada Tuan
penolongku.
“Berapa nilai yang kamu targetkan?” dengan dingin khas pengusaha
muda, Ana mencoba beranalisis atau sekedar menakutiku dengan kata target.
Sepertiya kamu belum begitu mengenalku Ana.
“Dua tahun, BEP 100%” Ana tersenyum. Tanda dia menerima
tantanganku.
Setelah kepulangaku ke Surabaya ,
tak sedikitpun mengurangi kedekatanku dengan Ugi. Kami masih sering berbagi
kebar melalui media apapun yang memungkinkan kami bisa berkomunikasi. Melalui
seluler, BBM, Yahoo Messengger atau pun sekedar inbox Facebook,.
“Kamu serius mau membuka cabang di Tasikmalaya?” tanyanya
antusias. Aku mengangguk dan memberinya senyum termanis. Video Messenger memudahkan kami berbagi ekspresi. “Kapan rencananya?”
“Bulan depan, mau survey lokasi. Kalau ada yang pas, langsung
mengurus kepindahan. Ini baru melakukan persiapan awal”
“Nanti aku bantu mencarikan tempat yang strategis” Meski
remang-remang dari layar Video Messenger,
aku bisa melihat semangatnya. “Aku kenal beberapa orang yang bisa membantu
untuk urusan bisnis seperti ini” Aku mengangguk.
“Lia, emm, aku boleh mengatakan sesuatu yang sedikit serius?”
Nadanya berubah. Seperti ingin mengatakan sesuatu yang berat.
“Naon A’?”
“Mau ikut bersamaku?” Aku tatap pemuda yang tergambar di balik
layar maya Video Yahoo Messenger. Dia
seperti sedang berdiri di sampingku, dan aku mengangguk bahagia.
“Ke mana kamu akan mengajakku?”
“Aku ingin membawamu ke sebuah tempat, yang
hanya akan ada Aku, Kamu dan Kebahagiaan.”
Aku ingin membawamu ke sebuah tempat, yang
hanya akan ada Aku, Kamu dan kebahagiaan.
Perkenalkanku dengan A’ Ugi memjadi titik baru dalam hidupku.
Kehadirannya seperti sebuah oase yang aku temukan di tengah gurunku yang
panjang. Dia datang membawa kebahagiaan untukku dengan tak terhingga.
“Kenapa kamu mencintaiku?” tanyanya di suatu pagi yang indah di
tengah padang
rumput hijau di bawah kaki gunung Galunggung , Tasikmalaya.
Aku menatapnya dalam. Seperti mencari jawaban dari
pertanyaannya. Aku mencintaimu karena kamu mempunyai senyum yang menenangkan
cinta, lihatlah bibirmu yang merona seperti bayi itu, berpadu manis dengan
kulitmu yang langsat membuat pipimu akan merona jika kau ketahuan memandangiku
yang sedang berdandan, seperti seoarang gadis yang tersipu ketika dirayu
kekasihnya. Atau lihatlah pula hidung kebanggaanmu itu, mancung runcing dengan
gagah. Tapi dari semua itu, aku lebih suka matamu. Matamu yang indah. Mata
elang yang membuatku selalu merasakan cinta yang besar ketika menatapnya. Aku
mencintaimu lebih dari kata-kata.
“Aku mencintaimu karena kamu bisa memperlakukanku dengan baik
A’, tak kurang, tak berlebih” aku genggam tangannya yang hangat. Meyakinkan
jika semua yang aku katakan benar adanya. “Kenapa Aa’ mencintaiku?”
Dia menatapku dengan mata indahnya, mata yang selalu membuatku
jatuh cinta itu. Mata elang yang menyejukkan.
“Karena aku terlahir untukmu”
Ah, seakan segala keindahan dunia tercurah sekali lagi padaku.
Lebih dari ketika Daniel mengatakan pujiannya padaku waktu itu. Lebih dari kebahagiaan
wanita manapun di dunia ini. Lebih dari semua cinta yang pernah ada.
Aku hanya wanita
Yang
ingin mencintaimu dengan sempurna
Seperti malam yang malang tanpa gelap
Laksana pagi yang hilang tanpa terang
Aku hanya wanita
Yang ingin mencintaimu dengan benar
Seperti bilangan ganjil dengan genap
Laksana detak jantung dalam hitungan
Aku hanya wanita
Yang ingin mencintaimu dalam nyata
Seperti bias dalam ruang hampa
Laksana cakrawala dalam semesta
Aku hanya wanita
Yang akan mencintaimu selamanya
Seperti setia angin kepada udara
Laksana kepatuhan hamba kepada Tuhanya
Aku hanya wanita
Yang akan selalu menemanimu dalam doa
Langganan:
Postingan (Atom)
YANG ESA
PENGINGAT
Labels
- Analogi (2)
- Belajar Desain (4)
- CORNER (1)
- Isi Hati (3)
- Jilbab QTa (1)
- NOVEL (8)
- SAJAK (3)


