Minggu, 12 Februari 2012

FIVE-IN (BAB III NovelQ)


Five-in

Aku mengenalnya dua tahun yang lalu, setelah 1 tahun sebelumnya aku hampir mati kerana cinta Daniel yang hilang. Aku yakin akan menutup pintu hatiku selamanya saat itu. Namun apa iya? Aku salah. Sekarang dia hadir di hidupku, mengisi hari-hariku, memberi kebahagian luar biasa yang tak pernah aku dapatkan dari siapapun.
“Hay....,” teriak seseorang dari arah belakang. Aku tak peduli. Aku hanya terpekur menatap lurus ke laut lepas. Membiarkan riak-riak ombak bermain di antara mata kakiku.
Aku masih teringat betapa dengan mudah Daniel memutuskan pertunangan kami. “Aku memiliki wanita lain” Ucapnya tanpa rasa bersalah. Aku remuk. Dadaku seperti dihujam palu besar penghancur batu cadas para penambang batu kapur di Gunung Pegat desa Babat Lamongan, namun palu itu terasa begitu membara. “Kita putuskan semuanya saat ini” setelah itu dia pergi. Tak mengucapkan kata-kata lagi. Bahkan untuk sebuah kata maaf sekalipun.
Tak ada satupun yang bisa aku lakukan saat itu. Bahkan menangispun aku tak bisa. Air matkua sulit sekali mengurai, walau hatiku sudah tak berbentuk sama sekali. Yang terjadi setelah itu, aku kolaps. Semua pekerjaanku berantakan. Kesehatanku memburuk jatuh ke titik parah.
“Aku butuh istirahat Na,” Aku meminta izin pada Ana selaku penanggung jawab di corporate kami untuk pergi menenangkan diri. “Aku butuh waktu untuk sendiri” Ana tak bisa menolak. Dia tahu persis rekan kerja sekaligus sahabatnya ini sedang dalam keadaan sangat tidak baik. Dia terpaksa membiarkanku pergi menenangkan diri meski dengan kondisi kesehatan yang tak bisa dibilang normal.
“Jika ada sesuatu, atau kamu butuh apapun segera hubungi aku” ucapnya saat melepasku di stasiun Gubeng, Surabaya. Dia memelukku dengan erat seperti tak ingin aku pergi. “Aku sudah meminta temenku yang ada di Bandung untuk menemani kamu. Edy namanya, nanti dia yang akan membantu kamu selama berada di sana” Aku mengannguk lesu.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa terpaku. Seperti mayat hidup. Semua berkelebatan di benakku. Kenapa seperti ini? Apa salahku hingga Tuhan menghukumku seperti ini? Kenapa aku selalu dibuang dan ditinggkan?.
Orang tuaku yang meninggalkan aku begitu saja tanpa mau tahu lagi di mana aku, dengan siapa aku, atau masih hidupkah aku.
Kedua mbahku yang Dia panggil saat aku masih begitu membutuhkan kekuatan untuk bisa bertahan hidup di dunia yang tak menerimaku. Meski aku harus membayar penerimaan mereka dengan kerasnya perlakuan meraka terhadapku. Paling tidak hanya mereka yang mau menerimaku.
Atau ketika sebuah tendangan dan caci-maki dari Paklek Mujib, pamanku yang mengusirku dari rumah, juga tatapan sinis Paklek Amin dan Bulek Ndalikah ketika melihatku memungut baju yang terserak karena mereka telah membuangnya. Lalu sebuah senyum penuh ejekan dari Bulek Nuriyati, istri Paklek Mujib yang memang tak pernah suka denganku.
Semua memenuhi memoriku. Mendesak-desak seperti ingin melompat dan menertawakanku. Aku terseduh-sedan dengan air mata yang mengalir deras. Membuat beberapa pasang mata yang berada di gerbong 3 kereta api kelas Eksekutif, Turangga, menatapku antara bingung dan iba. Aku tak perduli. Tak mau peduli. Aku hanya ingin semua cerita ini hilang dari benakku. Dari hidupku.
Aku larut dalam kesedihan yang teramat dalam.
Jika ada orang yang benar-benar peduli dengan keadaanku, merekalah ke empat sahabatku yang selalu bangga dengan apa yang aku lakukan. Selalu memberikan semangat luar biasa sehingga yang aku rasakan tidak ada lain selain kekuatan besar yang membuatku bangkit dari  setiap keterpurukan. Merekalah keluargaku yang sesungguhnya.
Mereka selalu mengatakan jika aku ini seperti rumput liar, yang bisa hidup di manapun, bertahan dalam situasi apapun, dan menjadi pionir mahluk hidup lain untuk sebuah ekosistem baru. Mereka adalah teman-teman terbaikku. Kami bersama-sama membangun dengan susah payah sebuah corporate yang kini mulai menjadi kebanggaan bagi kami. Five-in Corporation, diambil dari keanggotaan kami yang lima dalam satu visi yang sama. Ada Ana, Tucha, Saidah, Icha juga aku.
Kami bersahabat sejak sama-sama menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren yang berada di desaku. Pondok pesantren yang mengajarkan kami banyak hal, yang menghadiahkan kepada kami persahabatan indah ini. Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah menjadi saksi persaudaraan di antara kami.
Dengan kesamaan fisik yang sama-sama mungil waktu itu, membuat kami terlihat selalu kompak ke manapun dan di manapun. Seperti kembar lima beda orang tua kata teman kami yang lain. Kami selalu menjadi simbol keluguan di kelas kami. Selain fisik yang sama-sama mungil, kamipun tak pernah suka terlibat dalam perbincangan tentang masalah cinta monyet yang marak terjadi di antara ke 25 siswi di kelas kami. Entah karena memang kami yang kurang peduli dengan kehidupan pubertas pertama kami atau karena kami belum mengalaminya waktu itu. Kami lebih memilih bermain masak-masakan ketimbang ikut nimbrung membaca surat cinta yang diterima salah satu teman kami. Kami sama-sama lugu waktu itu, karena itulah kami berteman. Dan sampai saat ini, ketika kami sedang berjuang untuk sebuah pencapaian. Kami  tak mau perduli bagaimanapun kehidupan kami setelahnya, kami akan tetap akan bersahabat.
Ana Fauziyah. Setelah lulus dari UNJ, dia memilih menemani emaknya di kampung dan mengabdi di sana. Sepeninggal bapaknya, praktis hanya Ana yang bisa menjaga emak. Kedua kakaknya telah berkeluarga dan sedang mengikuti tugas dinas di instansi masing-masing. Juga tak mungkin meminta adiknya yang baru memulai tahun pertamanya kala itu di Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung untuk pulang pergi Lamongan-Bandung. Karena itulah Ana yang mengambil alih tugas menjaga emak, diapun tidak berkeberatan melakukannya meski dengan itu dia harus rela melupakan Beasiswa Study S2-nya di negeri kincir angin, Belanda.
Ana mengajarkan banyak hal untuk anak-anak di kampungannya. Berbagai macam kerajianan tangan, pengolahan makanan, pemanfaatan sampah menjadi produk trashion atau apapun yang memungkinkan meraka bisa memberdayakan diri mereka sendiri kelak.  Ana juga mengejarkan mereka menulis, karena Ana memang suka menulis. Lalu bersamaku medirikan Five-in di Surabaya 3 tahun yang lalu. Setiap satu minggu sekali dia pulang untuk melihat emak, bergantian dengan kakak keduanya yang juga telah lebih memilih tinggal di dekat emak dan meninggalkan pekerjaannya di Ibu kota.
Maftuchatus Sa’adah. Kami memanggilnya Tucha. Diantara kami, hanya dia yang telah menikah. Dipersunting seorang teman dari pesantren kami dulu. Bahrul Chovi namanya. Mereka mungkin tak bisa dikatakan teman. Sama-sama tak saling mengenal waktu itu. Peraturan pesantren yang memisahkan lokal putra dan putri membuat kami tak bisa banyak mengenal santri putra. Tapi di sinilah letak keunikan dan misterinya. Meraka pada akhirnya menikah. Dan kisah percintaan mereka tetap menjadi rahasia bahkan bagi kami. Mereka bersepakat untuk menutup rapat cerita cinta unik itu. “Untuk konsumsi pribadi” kata mereka. Jika kami berkumpul, merekahlah yang sering menjadi objek gurauan kami. Sering kali kami mengkompori tentang kisah cinta monyet mereka masing-masing, dan kami menikmati sekali ketika mereka saling bertanya dan menuduh.
Saidatul Maghfiroh. Saidah adalah yang paling istiqomah menelateni kehidupannya di pesantren. Setelah lulus dari Aliyah, pendidikan setingkat SMA dalam naungan yayasan yang sama dengan SMP kami, dia melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi Swasta yang juga dikelola pesantrean sehingga membuat pengurus yayasan mempercayainya sebagai salah satu pengajar di sana. Namun di sisi lain, dia menyimpan satu opsesi untuk bisa lepas dan keluar dari pesantren. Kami menebak mungkin ada sisi kebosanan yang dia rasakan. Saidah selalu bertanya kapan kami akan mengajaknya untuk ikut marasakan kehidupan di luar pesantren bersama kami. Dan ketika kami mengajakknya untuk bergabung dia menyambut antusias dan mengatakan. “Kenapa ndak dari dulu?”
Icha, gadis imut, lebih imut dari kami berlima. Nur Hayatun Anisa. Diapun sama dengan Tucha, sebentar lagi dia akan dipersunting oleh teman waktu sama-sama nyantri di pesantren dulu, yang bahkan kisah cintanya tak pernah kami duga sama sekali. Kisah cinta yang menurut kami tak biasa. Dia dan calon suaminya sama-sama pendiam, sama-sama pemalu. Kemudian Reuni SMP kami mempertemukan mereka di meja makan. Entah siapa yang memulai untuk saling bercerita, yang pasti mereka sekarang memutuskan untuk sesegera mungkin mengikuti jejak Tucha, membangun kehidupan pernikahan indah mereka. Luar biasa.
Dan aku, setelah berjuang sendiri lebih dari 3 tahun di Surabaya, akhirnya aku mampu mendirikan sebuah usaha kecil di bidang fashion, terkhusus untuk para muslimah. Dimulai dengan keisenganku membuat blog dan memasang foto-foto yang aku ambil dari situs secara acak di internet. Hasilnya di luar dugaan. Respon pasar sungguh luar biasa. Lalu dengan bermodalkan rekening pinjaman dari teman satu kosku, aku membuka semacam Online Shop. Dan dalam waktu 3 tahun aku sudah mampu mengembangkannya dengan mendirikan sebuah CV. Dengan brandku sendiri.
Dibantu dengan ke-empat sahabatku ini, kami mengembangkan corporation kami di bidang industri Fahsion kreatif. Kami memiliki beberapa item fashion di showroom kami, dan mengubah kiblat kami dari sekedar indusrti fashion khusus untuk produk Gamis menjadi industri fashion center for Moeslimah. Kami menyebutnya demikian, meski terkadang kami hanya mengarang saja untuk tema trend kami. Kami tak pernah benar-benar mengerti tentang arah fashion yang sebenarnya. 
“Asal ajalah, toh orang-orang juga ngak tahu kan?” ucap Icha terkekeh. Kamipun tertawa mendengarnya.
Keberadaan Daniel waktu itu membuatku memiliki semangat yang lebih. Aku ingin dia bangga padaku. Aku ingin membuktikan, meski aku tak pernah memiliki kesempatan untuk mencicipi bangku perkuliahan, tapi aku bisa melepaskan diri dari stigma pembawa kutukan dari keluargaku. Aku harus bisa membuat mereka melihatku sebagai seseorang. Daniel meyakinkanku jika aku bisa.
Namun ketika Daniel menghilang, semua menjadi berantakan. Aku kacau, pekerjaanku keteteran. Posisiku sebagai pengawas pemasaran terpaksa digatikan oleh Saidah yang harusnya memegang tim kreatif kami. Aku benar-benar kolaps, dan meminta waktu untuk sendiri.
“Aku mau ke Pangandaran Na” mintaku pada Ana. Dia setuju, meski dia tak mau jika aku pergi sendiri.
“Biarkan aku sendiri dulu Na, semua akan baik-baik saja” Aku meyakinkan Ana. Ana terpaksa setuju, begitu pula teman-teman yang lain. Mereka tahu aku memang butuh waktu untuk bisa sendiri. Semua sadar jika ini begitu berat bagiku.
Aku memilih Pangandaran sebagai tempat merenungku. Sebuah tempat yang aku sendiri tak pernah tahu keberadaannya. Aku hanya mendengar ceritanya dari Daniel. Katanya, Pangandaran adalah surganya keindahan di Jawa Barat, tempat Daniel berasal. Di Pangandaranlah tempat yang kami rencanakan untuk menghabiskan liburan bulan madu kami. Danielpun mengatakan jika kami bisa melihat matahari terbit dan tenggelam dari satu tempat.
“Kita seperti menyaksikan perputaran hari di sana dan tentu saja kita bisa menghentikannya jika kita mau dengan cinta kita pastinya” ucapnya waktu itu, aku tersipu dibuatnya.
Menghentikan hari hanya tinggal cerita. Atau mungkin saja Pangandaran memang akan menghentikan perputaran hari untukku, dengan kematianku. Aku semakin terisak. Membuat penumpang lain menatapku penuh tanya, namun tak ada yang bertanya, mungkin mereka tahu jika aku sedang sangat terluka, dan mereka lebih memilih untuk membiarkan aku larut dalam tangisanku. Sendiri.
Pangandaran, aku tak ingin mengehentikan harimu, tetaplah berputar se arah porosmu, biarkan semua tetap seperti titah Tuhanmu, sesuai peredaran mataharimu yang cantik. Aku hanya ingin melihatmu sebagai janji pada cintaku yang telah hilang, sebagai pengobat untuk luka yang saat ini mengangah dengan lebarnya. Semoga kamu bisa mengerti.
“Hay.., awaaass”seoarang berteriak seperti meneriakiku. Aku tak ingin peduli, namun teriakannya yang terus menerus membuatku terusik. Dan ketika aku menoleh, orang-orang di bibiran pantai terlihat kecil dan jauh. Mereka melambai, menunjuk-nunjuk mungkin juga berteriak ke arahku, tapi aku tak bisa mendengarnya. Ombak Pangandaran bukan lagi berlari-lari di mata kakiku, tapi hampir menenggelamkanku. Aku tersengal-sengal. Nafasku naik turun. Kepalaku timbul-tenggelam di permainkan ombak Pangandaran.
Pangandaran, apakah aku bisa membuatmu menghentikan hari. Untuk hari ini saja. Atau aku benar-benar akan  mati di sisimu.
Kesadaranku mulai hilang. Aku merasakan paru-paruku penuh dengan air. Aku seperti tercekik. Nafasku tersengal-sengal kian berat. Dan di saat antara hidup dan matiku aku seperti melihat bayangan seseorang mengulurkan tangannya untuk menuntunku. Dia tersenyum dengan manis. Matanya seperti mengatakan jika aku akan baik-baik saja.
“Daniel” bisikku lirih.
“Apa aku akan mati Daniel?” Aku hanya bisa melihat gelap yang pekat, namun tidak dengan wajah itu. Wajah itu seperti bercahaya dalam kegelapan. Wajah itu terus memberiku keyakinan  jika aku akan baik-baik saja.
“Daniel, kau kah itu?” Aku mencoba meraihnya di tengah kepayahanku melawan cekikan ombak Pangandaran. Diapun meraihku, memelukku, seperti ingin memberiku perlindungan dalam dekapannya, “Jangan tinggalkan aku” Aku terisak di pelukannya,
“Aku tidak akan pergi sayang,” ucapnya. Dia terus mendekapku erat. Lalu mendekatkan bibirnya ke bibirku. Aku terpejam, mencoba memberikan bukti cinta yang pernah dia minta. Aku tak ingin kehilangannya lagi. Aku tak ingin melepaskannya, selamanya.
Dan ketika aku membuka mata, semuanya tiba-tiba menjadi sangat silau. Pangandaran yang ganas sepertinya telah melepasku. Aku seperti sedang bermimpi. Bermimpi Daniel kembali padaku, menatapku, memelukku dan menciumku. Tapi mimpi itu sepertinya masih bisa aku rasakan. Aku masih bisa merasakan hangat cuiman yang dia berikan. Aku mencoba bersahabat dengan benderang yang tiba-tiba. Aku buka mata sedikit demi sedikit, lalu menyaksikan beberapa orang mengerubungiku. Aku merasakan seseorang memegangi kepalaku, membuka mulutku dan,
 “Apa-apaan ini?” Aku tersentak. Seseorang menciumiku di depan umum saat aku tidak sadarkan diri? Aku muntab. “Kamu gila ya?” sekonyong-konyong aku mencoba berdiri. Memaksakan diri untuk bangkit dan melihat siapa yang sudah kurang ajar terhadapku.
“Kamu yang gila” seorang pemuda berbalik membentakku. “ Kamu mau mati ya?” sentaknya lagi. Entah kenapa aku reflek menggeleng “Ombak sedang pasang dan kamu terus berjalan ke tengah, kalau tidak mau mati mau apa? Kalau mau bunuh diri jangan di sini non, merusak pemandangan”
Aku terisak. Kenapa orang ini memarahiku? Aku tak pernah bermaksud membunuh diriku, semua terjadi di luar kontrol. Aku terseduh dan terus menagis, lalu luruh terduduk di pasir putih Pangandaran. Rupanya hal itu membuat pemudah di depanku luluh, tak lagi membentakku, mungkin dia sadar telah berkata terlalu kasar padaku.
Dia berjongkok di hadapanku. “Bukan begitu cara menyelesaikan masalah” Dengan lembut dia memapahku, mengantarkanku ke penginapan tempatku menginap dan menitipkan aku ke resepsionis lalu melangkah pergi.
“Tunggu” Dia mengehetikan langkahnya.
“Iya?” jawabnya.
“Terima kasih,” ucapku tulus.
“Sama-sama”  jawabnya dengan seulas senyum yang pernah aku kenal, tapi entah di mana.
“Nama kamu siapa?”
“Aku Lugina, panggil saja Ugi”

Jumat, 10 Februari 2012

Hanya Wanita

Aku hanya wanita
Yang ingin mencintaimu dengan sempurna
Seperti malam yang malang tanpa gelap
Laksana pagi yang hilang tanpa terang
Aku hanya wanita
Yang ingin mencintaimu dengan benar
Seperti bilangan ganjil dengan genap
Laksana detak jantung dalam hitungan
Aku hanya wanita
Yang ingin mencintaimu dalam nyata
Seperti bias dalam ruang hampa
Laksana cakrawala dalam semesta
Aku hanya wanita
Yang akan mencintaimu selamanya
Seperti setia angin kepada udara
Laksana kepatuhan hamba kepada Tuhanya
Aku hanya wanita
Yang akan selalu meneminu dalam doa

Secarik rindu yang bisu


Secarik rindu yang bisu

Sebait cinta yang kelam

Kau hilang bersama malam, lalu aku terbuang

Menghirup baumu hanya dari angan lalu menjelma menjadi kesakitan.

Apakabar sayang, hati ini semakin merana karena cinta yang tak terbalas

Apakabar cinta, hati ini kian beku tergelayuti rindu

Apa kabar rindu, hati ini mati bersama kisah yang salah

Aku mencitaimu lebih dari yang kau tahu

Lebih dari wanita manapun yang mencintaimu

Lebih dari raga manapun yang kau sentuh

Aku mati karenamu

Karena cinta yang kau bawa hanya berupa maya

Karena cintaku kau buang ketika nyata.

Namun aku tetap saja terdiam menatapmu

Tak mampu berpaling meski sakit kian membunuh

aku terikat dalam perjanjian cinta tak bernama

Rabu, 08 Februari 2012

GRAND DESAIN (BAB ke-2 di NOVELku)


Grand Desain

Tak terasa sudah dua tahun terlewati. Semua berlalu begitu cepat. Kahadirannya telah menjadi penyemangat baru yang membuat aku kembali hidup. Kusiapkan sebuah kejutan kecil malam ini. Beberapa hidangan istimewa tersaji yang manis di atas meja kecil beralas kain parasit bunga-bunga perpaduan putih, ungu dan pink. Cantik sekali.
Letak balkon rumah yang berada di lantai dua menunjukkan pemandangan yang tak kalah istimewanya. Langsung menghadap ke arah perkotaan yang hingar dengan lapu kelap-kelip. Kilaunya seperti bintang yang lengkap di saat malam cerah, dan disaksikan dari sebuah padang rumput yang luas yang tenang. Indah sekali.
Kluing, handphonku berbunyi. Sebuah sms masuk. ID yang tertulis, My Destiny.
“Apa Bunda sayang? Papa masih banyak kerjaan ni,” duuh, kenapa masih sibuk sih apa dia lupa tentang hari ini, Gerutuku.
“24 Desember 2010, come to me” cepat ku kirim balasannya.
“Papa baru selesai jam sembilan ni, bagaimana?”
“Bawel ah, pulang aja cepat dan lihat aku dengan cintamu ;)” pasti dia penasaran, aku tahu siapa dia. Ku non-aktif kan ponsel dan kembali bergelut dengan kado spesial untuk kakasihku.

Tak terasa sudah dua tahun berlalu. Semua berjalan begitu cepat. Secepat aku bisa menghadirkannya di hidupku. Aku pikir, aku takkan pernah jatuh cinta lagi setelah rencana pernikahanku dengan Daniel berantakan. Sebuah pernikahan indah yang aku pikir akan berakhir hanya dengan kebahagiaan nyatanya tak pernah menemui ujung mahligai itu. Daniel menghianatiku, dan aku terluka demikian parah hingga pernah mengikrarkan diri takkan pernah jatuh cinta lagi.
Daniel Impeesa, sosok istimewa yang pernah hadir di hidupku.
“Daniel Impeesa” waktu pertama kali dia memperkenalkan namanya. Perkenalan di sebuah pertemuan organisasi kepanduan yang diselenggarakan antar provinsi. Antara senior yang simpatik dan tampan dengan junior yang sok tahu lalu dihukum untuk mencari senior yang paling tampan karena ke-sok tahuannya itu. Aku memilih Daniel Impeesa, karena memang nyatanya dialah yang tertampan di antara semua.
“Namanya keren” aku tersenyum. Dia membalas senyumku dengan kerlingan mata.
Nama yang unik. Impeesa, mengingatkanku pada dunia ke-pramukaanku tentunya. Nama ambalanku yang diambil dari sebuah gelar yang diberikan kepada Badon Powell sang pendiri pandu dunia, karena kegigihannya memberdayakan pemuda suku pedalaman Amerika kala itu. Impeesa, serigala yang tak pernah tidur.
Daniel, sosok yang begitu istimewa di hatiku setelah itu. Dia memintaku menjadi istrinya setelah pertemanan kami yang berlangsung cukup lama dari awal pertemuan kami di acara Jambore nasional waktu itu hingga 5 tahun berselang. Hatiku berbunga ketika dia memintaku menjadi bagian dari kerajaan hatinya. Sepertinya dia adalah sosok yang tepat dan di waktu yang tepat. Persahabatan kami yang telah berjalan lebih dari 5 tahun memberikan keyakinan yang sangat kuat dengan niatannya untuk menikahiku. Aku bahagia.
Terlebih ketika itu, Daniel tak mempermasalahkan status latar belakangku yang mungkin tak semua orang bisa menerimanya. Dia dengan senyum yang menenangkanku mengatakan  jika dia tak ingin menikahi masa lalu, dia hanya ingin mengajakku menapaki masa depan yang lebih baik. Aku semakin bahagia.
Diawali dengan saling bertukar proposal nikah yang masing-masing dari kami menceritakan latar belakang, visi misi berkeluarga, pun penerimaan kami terhadap kekurangan masing-masing. Kuceritakan semua cerita yang aku punya. Dari kedua orang tuaku yang bercerai, didikan keras bersama mbah kakung dan mbah uti karena tuntutan ekonomi yang tak bisa dikata cukup, sampai keberadaanku di kota pahlawan Surabaya, karena merasa dibuang oleh keluargaku sepeninggal kedua mbahku. Semua kuceritakan.
Jika ada yang kurang berkenan, kakak tak usah memaksakan. Kalaupun hubungan kita nantinya tak berujung pada pernikahan, aku ingin kita tetap akan berteman, selamanya.  Tulisku di akhir proposal itu.
Segera kukirim melalui e-mail, meski  aku sempat ragu apa dia bisa menerima kondisiku saat itu. Namun semua luruh, ketika dengan lantang dia berkata “Kita tutup masa lalu, aku tak ingin menikahi masa lalumu, kita akan melangkah bersama, dan aku berjanji pada adek, aku takkan pernah memberi kesedihan di hati adek”
Aku berlutut penuh haru. Betapa adil Tuhan padaku, ketika semua orang membuangku dari kehidupan mereka, Tuhan mengirimkan seseorang untuk mencitaiku dengan ikhlasnya.
Semua berjalan dengan baik. Kami merancang sebuah keluarga kecil yang bahagia.
“Adek maunya 3 anak kak, 2 anak laki-laki dan satu anak perempuan” Sebuah diskusi kecil yang membahagiakan waktu itu.
“Nggak ah, dua anak laki-laki saja” Jawabnya tenang sembari tersenyum manis.
“Kok gitu? Egois ah” Dia hanya mengangguk. “Kasihan bundanya dong, nggak ada yang batuin di dapur”
“Yang bantuin ayah dan anak-anak dong, bantuin ngehabisin” Jawabnya terkekeh. Aku semakin manyun. Lalu dia meraih tanganku, menatapku dengan hangat “Biar bundanya nggak ada yang menyaingi, menjadi wanita satu-satunya yang tercantik di hati ayah”
Seakan semua kebahagian di dunia tertumpah di hatiku. Aku merasa menjadi wanita tercantik di dunia. Air mataku menjadi bukti keharuanku yang luar biasa.
Kami sedang mencoba menjadi arsitek untuk keluarga kecil kami yang bahagia, membuat maket kehidupan yang akan kami jalani bersama. Melukiskan sketsanya dengan cantik dan dengan arsiran yang sepertinya akan menjadi nyata. Kami sedang merancang masa depan yang kami sebut dengan Grand Desain kehidupan.

Namun malang tak mampu dihadang. Semua mulai berubah ketika aku menolak sebuah ciuman darinya. Hanya karena sebuah ciuman yang menjadi prinsipku selama ini, membuat maket kehidupan kami hancur berantakan. Aku terluka.
“Ini belum boleh kak” Tolakku halus sambari menjauhkan bibirnya yang dekat di wajahku.
“Show me your love” Bisiknya seperti mengiba.
“I will, tapi tidak sekarang sayang. Akan aku tunjukkan lebih dari sekedar ini” Aku mencoba meyakinkannya. Mengatakan jika semua ini bisa kami lakukan kapanpun saat waktunya tiba. “Aku ingin mencintaimu dengan cara yang benar sayang”
Dia memang menerima waktu itu. Namun setelah kejadian itu, aku merasa semua mulai berubah. Kehangatannya mulai terasa seperti musim hujan. Mendung dan dingin. Tak ada lagi hari dengan canda dan rayuan. Yang ada hanya keheningan dan hampa.
“Aku hanya ingin mencintaimu dengan benar kak, tolong bantu aku” Aku kirimkan sebuah sms untuknya setelah hampir 1 bulan dia tak menghubungiku. Aku kacau. Bingung dan ketakutan. Seperti kehilangan pijakan. aku tak mampu berfikir dengan jerni. Ingin saja aku lari memeluknya, memberikan semua yang dia minta, lalu semua akan baik-baik saja dan dia akan segera menikahiku.
Namun salah, dari sekedar tak mengubungiku 1 minggu, 1 bulan, berbulan-bulan, lalu hampir satu tahun dia membiarkanku tanpa kepastian. Setiap aku hubungi melalu ponselnya, selalu saja dialihkan, diputus atau dinon-aktifkan. Aku mencoba mencarinya melalu teman-temannya, tapi nihil. Banyak nian alasan meraka. Mulai dari ada proyek di luar kota, sedang sakit dan dirawat di rumah sakit terbaik, berlibur ke luar negeri atau bahkan tidak tahu-menahu tentang keberadaan Daniel.
Aku mencoba menerima alasan itu. Toh selama ini kami pun terpisah jarak. Pekerjaannya sabagai asisten senior sebuah wedding organizer di pulau dewata, Bali  membuatnya sangat sibuk. Hanya sekali atau dua kali dalam satu bulan dia mengunjungiku di kota pahlawan Surabaya untuk  melepaskan kerinduan. Tapi sekian lama, semakin tak jelas arah ujungnya. Dia seperti menghilang. Menghilang begitu saja.
Setiap hari seperti sebuah derita untukku. Tersiksa karena cinta. Apa yang begitu menyiksa dari seorang pecinta di dunia ini? Cinta tak direstui? Seperti Laila dan Majnun atau Romeo dan Juliet? Paling tidak mereka saling mencintai, saling tahu jika kekasihnya memberikan cinta yang besar untuk pasangannya. Tapi aku tersiksa karena cinta yang digantung, yang bahkan aku sendiri tak tahu, masihkan dia mencintaiku. Ke mana larinya semua cerita indah kami? Aku lunglai. Bukan lagi sakit dan tersiksa namun hampir mati.
“Are you ok?” Ana memelukku dengan erat. “Menangislah” Katanya.
Aku ingin sekali. Ingin sekali menangis dengan keras hingga seluruh dunia tahu jika aku sekarat. Tapi tak bisa. Air mataku hanya bisa menyesaki dadaku yang penuh dengan kesedihan.
“Kami masih bersama kamu Lia, kamu kuat ya”
Ana tak mampu membuatku lebih baik. Mungkin inilah sebuah akumulasi kekecewaan dari semua cerita hidup yang aku alami. Bukah hanya karena Daniel, tapi hampir di semua cerita hidupku, kisah seperti inilah yang aku alami. Ditinggalkan dan dibuang.
Bagaimana bapakku dengan enaknya mengatakan jika aku bukan lagi tanggung jawabnya ketika aku datang mengiba ke rumahnya untuk meminta uang pembayaran SPP yang menunggak lebih dari 5 bulan.
“Lahkan enek mbahmu, bapak iki akeh tanggungan. Emange bapak iki juragan iwak tho, kok njalok nek bapak?” Apa wajar dia berkata seperti itu untuk anaknya yang tak pernah sekalipun meminta bantuannya sebelum ini? Aku anaknya, bukan pengemis yang meminta-minta belas kasihan darinya. Aku sakit hati. Semua terekam kuat di memoriku, membuat rekam jejak yang takkan pernah terhapus. Dia tak berhak menjadi bapakku.
Atau mamaku yang tak pernah datang atau memberi kabar keberadaannya setelah kepergiaannya ke pulau kalajengking, Batam. Dia seperti lupa telah melahirkan seorang putri yang dia tinggalkan tumbuh sendiri, tanpa kasih sayang seorang ibu yang katanya sepanjang jalan itu. Bahkan mbahku menggapnya mati. Bukan sadis, tapi nyatanya dia memang seperti tak lagi hidup. Tak pernah ada kabar berita, bahkan untuk secarik suratpun. Tak pernah ada. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku melihatnya. Bagaimana ekspresi terakhirnya ketika meninggalkanku sendiri, apa dia menangis waktu meninggalkanku? Aku benar-benar lupa. Dan dengan yakin ku tuliskan statusku di buku induk sekolah sebagai anak yatim-piatu. Entah siapa yang durhaka dari siapa, mungkin Tuhan lupa menuliskan di kitab sucinya jika mungkin saja ada orang tua yang durhaka.
Kehidupanku dengan kedua mbahku tidak berarti berlangsung dengan wajar pula. Tidak. Sama sekali tidak. Aku dididik seperti aku ini bukan seseorang yang berperasaan. Celaan sepertinya adalah pujian yang biasa dikatakan setiap saat. Semua pekerjaan benar bagi mereka adalah kurang benar. Dan pekerjaan yang salah aku lakukan bagi mereka adalah hukuman. Gagang sapu ijuk, helai sapu lidih, potongan bambu yang biasanya dipakai untuk alas ranjang kayu yang kami menyebutnya “Galar” atau bahkan kayu bakar adalah alat-alat yang kerap kali warnai tubuh kecilku. Membuat warna lebam biru dan merah yang hanya akan hilang setelah 1 minggu. Semua menjadikanku pribadi yang sakit. Anak manusia yang tumbuh dengan kesakitan dan tekanan luar biasa.
Mungkin mereka menganggapku sebagai kutukan. Hanya seorang yang menjadi benalu di kehidupan keluargaku. Sepeninggal kedua mbahku, mereka mengusirku. Mengatakan jika aku bukan bagian dari mereka. Lalu aku mulai menarik sebuah benang merah dari semua itu, jika aku tak punya siapapun. Kecuali Daniel.
Aku terlanjur jatuh cinta dengan sangat kepada Daniel. Merasakan cinta yang besar darinya. Hidupku seperti bergantung dengan kehadirannya. Lalu ketika dia menghilang, aku seperti kehilangan hidupku. Aku seperti mayat hidup.
Hari ini, tepat dua tahun setelah Daniel meninggalkanku. Tepat dua tahun pula aku menemukan cinta baru yang luar biasa, lebih dari cintaku kepada Daniel. Aku sendiri ragu, apa benar aku dulu mencintai Daniel? Apa bukan sekedar penyejuk saat aku butuh seseorang untuk mengatakan jika dia mencintaiku? Kini aku tak perduli Daniel pernah ada atau tidak.
“I love You bunda” Kecupnya di keningku. Membuat malam ini semakin sepesial. Semua cerita suram dua tahun lalu hilang dengan kehadirannya. “Maaf ya, papa terlambat”

Selasa, 07 Februari 2012

PERAHU KERTAS (BAB I NovelQ)



Perahu Kertas

Ana berjalan cepat menelusuri lorang rumah sakit yang panjang. Kantong bawaannya terayun ke kiri dan kanan mengiringi hentakan kakinya. Pandangannya lurus menatap ke depan seakan tak ada tujuan lain selain arah tatapannya. Dia memang sedang tergesa. Sudah dua hari dia tak menemui seseorang. Seseorang yang harus dia jaga. Seseorang yang begitu membutuhkan kehadirannya.
Lorong rumah sakit ini selalu mengingatkan Ana pada lorong panjang di sebuah sekolah menengah pertama sederhana, yang riuh dengan tawa gadis-gadis remaja seusianya waktu itu. Tawa penuh semangat yang mengalirkan kegembiraan masa muda yang ceria, tawa yang mengalirkan optimisme untuk menjadi wanita-wanita dewasa dengan pencapaian yang gemilang.
“Kamu tahu Na, besok aku akan membangun restoran bernuansa pedesaan di bantaran Kali Ciliwung. Aku akan membuat Kali Ciliwung menjadi obyek wisata kelas dunia dengan sungainya yang bersih, seperti Venesia di Italia, cantik sekali.”  lalu sang pemilik cita-cita itu tertawa lepas seperti dia telah berhasil membuat Kali Ciliwung menjadi seperti harapannya, menjadi Venesia yang romantis meski Ana sendiri yakin bahwa pemilik cita-cita itu tak pernah tahu secara nyata kondisi bantaran Kali Ciliwung maupun Venesia. “Aku kasih nama PACIRANAN City.”
“Emang kamu tahu Kali Ciliwung?” Ana bertanya polos.
Yang ditanya hanya nyengir memamerkan gigi-gigi kecilnya dan berkata, “Itu bisa diatur”
“Hmm, sok tahu” lalu mereka berdua tertawa dengan riangnya.
Ah teman, sejak  dulu aku selalu suka semangatmu. Kamu orang yang luar biasa. Karena itu, hari ini berjuanglah. Dadanya sesak. Dia mendengar bisikan hatinya seperti suara yang meraung, terdengar di setiap sudut rumah sakit, dan Ana tahu jika dia harus lebih mempercepat langkahnya.
“Mbak Ana..!” suara dari arah belakang membuat Ana berhenti dan berpaling. Seorang wanita berjilbab dengan warna baby pink dan jas putih berkibar menghampirinya sembari berlari kecil. “Maaf tadi saya dari luar.”
Ana menyambut uluran tangan dokter Niken dan membalas senyumnya. “Kata staf ibu, tadi ibu sedang ada kepentingan, karena itu saya langsung saja ke sini.”
 “Iya Mbak, tadi ada pasien yang harus saya antar ke rumah sakit rujukan, mari saya temani,”
Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan obrolan ringan antara keluarga pasien dengan dokter yang menangani. Dokter Niken belum berani memberikan kesimpulan atas hipotesis analisisnya mangenai kondisi pasien saat ini. Masih ada sesuatu yang dia ragu untuk mengungkapkannya pada Ana. Dokter Niken tahu jika sesuatu itu mungkin saja akan membuat Ana sulit untuk menerimanya. Karena itu dokter Niken memilih mengatakan hal-hal wajar tentang diri pasiennya.
“Yang dia butuhkan saat ini adalah dukungan Mbak,” Ana tersenyum, mencoba memperlihatkan ketegaran di mata dokter Niken.
Dokter Niken adalah dokter yang dipercaya Ana untuk menjaga sahabatnya di rumah sakit ini. Sejak awal dokter Niken lah yang menanganinya, dan Ana tak ingin dia digantikan dengan dokter lain.
Melihat dokter Niken, maka kesan pertama yang terlihat dari dokter Niken adalah dia wanita yang cerdas. Tentu, dia adalah wanita yang cerdas. Berhasil meraih gelar dokter muda di usia  21 tahun dan di usia yang baru menginjak 26 tahun dia sudah menjadi dokter spesialis di bidangnya.
Wanita yang tergolong cantik untuk ukuran masyarakat Indonesia. Tinggi semampai, berkulit putih bersih dan kemerahan serta mewarisi garis wajah khas keturunan Ras Kaukasoit yang eksotik dan menawan, berpadu dengan keteduhan dan feminisme khas pribumi Keraton Jogjakarta yang kalem dan anggun. Cantik dan menarik.
Namun lebih dari itu, dia adalah wanita yang sabar, bisa terlihat dari garis wajahnya yang teduh dan menenangkan. Karena itu Ana memasrahkan kesembuhan sahabatnya itu pada dokter Niken. Dia yakin dokter Niken bisa membantu sahabatnya untuk kembali menjadi manusia optimis seperti yang Ana kenal selama ini.
Perjalanan menuju ruang Paviliun Melati I begitu jauh dan lama. Dari pintu masuk rumah sakit harus melewati beberapa lorong panjang yang begitu memiriskan. Suara-suara histeris kerap  kali terdengar di sepanjang ruangan yang mereka lewati. Tak sedikit pasien yang meronta mencoba berlari meminta pertolongan ataupun berteriak hanya untuk sekedar bercanda dengan perawat mereka. Semua membuat Ana miris. Merasa bersalah. Semua akan segera membaik teman. Hati kecilnya meyakinkan.
“Dokter tolong...,” seperti lolongan, suara itu terlontar dari seoarang lelaki tua berpawakan kurus dan kacau. Dia berlari dengan cepat ke arah mereka dan dengan cepat pula lelaki itu bersembunyi di balik tubuh dokter Niken. Andai dokter Niken tak segera memperbaiki pijakan kakinya di bumi, mungkin dia akan terjatuh dibuatnya. Lelaki itu seperti ketakutan.
“Kenapa ini Pak?” tanya dokter Niken kalem.
“Aku emoh karo dokter itu Dok, wong iku rusak” kata lelaki tua itu terengah-engah sembari menunjuk-nunjuk ke arah beberapa orang yang berlari di belakangnya.
“Mari Pak, Dokternya mau lihat pasien yang lain” perawat yang mengejarnya mencoba bersikap lebih ramah. Mungkin takut pasiennya akan semakin histeris.
emoh…!” jawab lelaki itu ketus.
“Kenapa Bapaknya suster?”
“Bapak ada jadwal terapi Dok, tapi dia menolak.”
“Di mana?”
“Di ruang Fisioterapy”
“Biar saya yang antar ke sana” ucap dokter Niken kalem, lalu mempersilahkan perawat untuk meninggalkan lelaki tua yang ketakutan itu bersama kami. “ Mbak Ana maaf, saya tinggal untuk antar bapak ini dulu ya, Mbak Ana lanjut jalan saja dulu, nanti saya menyusul,” Ana mengangguk mengerti lalu mempersilahkan dokter Niken. Tampaknya bapak itu hanya bisa ditenangkan oleh dokter Niken. Mungkin dia terlalu takut dengan terapi yang akan dia jalani.
Ana melanjutkan perjalannanya sendiri. Menyusuri satu belokan lagi, dan dia akan sampai di ruang perawatan sahabat hebatnya itu.

 “Hay, kamu Ana Fauziyah kan?” seorang gadis kecil seusianya menyapa dengan wajah berbalut senyum yang manis. Pipinya yang cubby membuat mata bolanya membantuk sudut kecil yang rapat. Ana mengangguk dan menyambut uluran tangan gadis itu.
“Kita dulu pernah kenalan waktu ada perkemahan di Lapangan Mbabrek, kamu ingat nggak? Aku dulu yang duduk di belakang kamu” gadis itu bercerita dengan penuh semangat. Pipinya yang tembem seperti menari-nari mengiringi gerak bibir dan intonasi ceritanya. Ana menyimaknya dengan penuh antusias, seantusias pembawa cerita.
“Oh ya, kamu masuk kelas apa?” dia mengakhiri ceritanya dengan pertanyaan.
Ana tergagap. Dia terlalu asik melihat pipi gadis di depannya yang seperti menari itu. “Aku kelas I-C, kamu?”
“Wah sama, aku juga. Kamu sudah dapat bangku?” Ana belum sempat menjawab, gadis itu keburu menarik tangannya lalu mengajaknya berlari ke arah kelas baru mereka.
Perkenalan pertama kali mereka yang memberi kesan kepada Ana tentang sebuah semangat dari seorang gadis kecil seusianya. Begitu ceria dan tanpa beban.
Ana merasakan pelupuk matanya memanas, susah payah dia menahan air matanya agar tak tumpah di depan sahabatnya. Sesak begitu menggelayuti hatinya. Langkahnya seketika menjadi berat. Dia merasa harus menghentikan langkahnya sebelum dia limbung dan terjatuh. Dia sandarkan tubuhnya di sebuah tiang penyanggah di dekat taman. Tinggal bebarapa ruangan lagi, dan dia akan sampai di ruang perawatan sahabatnya. Tapi setiap dia mendekati ruangan itu, dia selalu tak bisa mengontrol perasaan hatinya. Semua terasa begitu berat. Namun dia tahu, dia harus kuat. Untuk sahabatnya.

“Lihatlah Na, perahuku berjalan lebih cepat dari perahumu” matanya berbinar menyaksikan perahu kertas mereka saling berlomba menantang riak-riak ombak laut utara pulau jawa. Desa mereka yang terletak di pesisir pantai utara Pulau Jawa membuat laut bukanlah pemandangan yang asing. Sebuah dermaga sederhana dibangun secara swadaya oleh warga sekitar untuk memudahkan kapal-kapal nelayan bersandar di tepiannya.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama di dermaga itu. Hanya sekedar ingin menyaksikan semburat jingga di ufuk timur, ataupun hanya untuk berbagi cerita. Tentang apapun.
“Kamu sudah lihat Kali Ciliwung dong Na?”
Ana mengangguk. “Benar katamu dulu, kita perlu meubah wajah Kali Ciliwung” Jawab Ana antusias. Kesibukannya sebagai aktivis lingkungan di sebuah Universitas Negeri di Jakarta membuat dia tahu bagaimana wajah Kali Ciliwung dengan baik saat itu.
“Kita? Ah, Apa aku bisa Na?” Ana melirik sahabatnya. Ada sebuah nelangsa di matanya. Keadaan memaksanya untuk mengubur cita-citanya sebagai seorang pengacara besar yang siap memperjuangkan keadilan masyarakatnya. sebuah cita-cita besar tentunya.
“Kenapa nggak bisa?”
“Aku tak memiliki banyak kesempatan” dia menghela nafas berat, Seberat hatinya yang dulu harus rela melepas beasiswa yang dengan susah payah telah diraihnya hanya karena keluarga yang merawatnya  menyebutnya tak tahu malu, menyebutnya hanya bisa menjadi benalu untuk keluarga itu, dan diapun memilih untuk tak lagi melanjutkan mimpinya, memilih untuk tak mau lagi disebut sebagai beban untuk keluarga yang telah merawatnya.
Setitik bening air mata terselip di sudut mata sahabatnya itu. Ana menggenggam tangannya. Mencoba memberi tahu jika kesempatan selalu ada.
“Aku mungkin tak memiliki banyak kesempatan untuk meubah Kali Ciliwung, tapi aku punya banyak kesempatan untuk meubah hidupku ini menjadi hidup dengan sistem hidup yang lebih baik, benarkan Na?” Ana hampir saja melonjak. Semangat gadis itu selalu membuatnya terkaget. Dalam satu tarikan nafas saja dia berhasil memulihkan kembali hatinya yang lemah. Siapa yang bisa membunuh langkahmu kawan, Kau selalu saja memiliki tenaga lebih untuk membuat semuanya seperti mungkin dan akan sangat mungkin terjadi.
“Lihat saja perahuku, dia seperti berlari. Apa menurutmu ini bukan suatu pertanda Na” dia tertawa lepas. Selepas pikirannya yang terbang jauh melapaui semua kemungkinan. Tawanya yang riang seperti tak menyisakan sedikitpun kesedihan di hatinya, yang Ana sendiri tahu jika sahabatnya itu sedang menghibur dirinya yang terluka.

Ana tumpahkan air matanya sebanyak yang dia ingin keluarkan. Secepatnya dia harus segera memulihkan hatinya, mengisinya dengan kekuatan dan optimisme untuk bisa dia salurkan kepada sahabatnya itu. Ana tak ingin sahabatnya melihat dia lemah, karena Ana tahu sahabatnya pun sedang berjuang, berjuang dengan semangat yang luar biasa.
“Mbak Ana, sedang apa?” Ana terkaget. Dokter Niken rupanya. Dia tangkap seulas senyum yang menguatkan dari dokter Niken. “Mari Mbak, dia sedang menunggu Mbak,”
Dokter Niken menepuk pundak Ana sebagai tanda penguatan. Ana sedikit kikuk. Dia tahu pasti dokter Niken melihat air matanya yang leleh tak bisa tertahan.
“Dia pasti kuat, dia punya sahabat-sahabat yang hebat seperti Mbak dan kawan-kawan”
Sebuah ruangan di sudut kavling Paviliun Melati I. Pintunya berwarna abu-abu pucat dengan cat tembok berwarna putih yang juga pucat. Hanya ada satu ranjang di sana, sebuah meja, lemari kecil pun kursi yang juga kecil, sebuah lampu meja serta beberapa lembar kertas yang berserakan. Jendelanya yang menggantung tepat di atas sisi ranjang sengaja dibiarkan terbuka lebar. Ana yakin, pemandangan di luar sana hanya menampakkan taman kecil rumah sakit dan beberapa aktivitas penghuninya. Namun di sisi itulah tempat favirot sahabatnya, karena itu Ana tak membiarkan siapapun meubah letak ranjang, walau dia tahu akan sangat silau jika sore hari tiba, karena letaknya yang menghadap ke barat. Ana melangkah pelan menghampiri sahabatnya, pemilik pipi cubby yang menari itu.
Kata-kata selamat pagi atau sekedar salam seperti tak mampu keluar. Lidah Ana menjadi kaku ketika dia lihat pemandangan tak biasa dari pemilik pipi cubby itu. Sekuat hati Ana mencoba menahan gejolak batin yang menyesak. Tak sanggup rasanya Ana melihat pemilik pipi menari itu menjadi sedemikian mirisnya. Tak ada lagi pipi cubby yang menari. Hanya ada rahang kecil yang memperlihatkan tulang pipinya yang menonjol. Matanya yang bulat terlihat sayu dan menghitam seperti terlalu banyak menangis. Ketika Ana mencoba menyentuh tangannya, Ana seperti tak menemukan kehidupan. Seperti tak ada darah yang mengalir, terlalu dingin untuk manusia yang masih bernafas. Ana mencoba bersuara meski dengan berat, meski dengan diiringi sesak yang bagitu hebat,
“Assalamualaikum, Lia”

Minggu, 04 September 2011

Proposal Pengajuan Kerjasama Jilbab QTa

Proposal Pengajuan Kerjasama


Dunia usaha benar-benar dimanjakan dengan perkembangan teknologi saat ini. Pemanfaatan jasa layanan telekomunikasi telah membuka jarak selebar-lebarnya untuk pengembangan usaha. Hal ini tentu membawa dampak yang luar bisaa bagi kemajuan usaha. Tidak hanya untuk usaha yang berkaitan dengan teknologi, namun sudah merambah ke industri-industri kecil rumahan. Pasar yang semakin melebar membuat omset pemasaranpun kian tinggi.

Bidang usaha produksi busana yang seperti tidak ada matinyapun ikut mengambil tempat dihati para pengusaha, terkhusus produksi jilbab bagi kaum muslimah. Wanita berjilbab seperti sebuah fenomena tersendiri bagi pengusaja jilbab. Kesadaran tentang arti jilbab yang meningkat membuat pasar jilbabpun ikut meningkat. Apalagi berjilbab bukan lagi sebuah tuntutan bagi seorang muslim, melainkan telah menjelma menjadi sebuah kebutuhan dalam berbusana yang syar’i, catik namun tetap trendi.

Jilbab QTa adalah sebuah merek dagang yang kami gunakan sejak awal tahun 2010. bemula dari keisengan memanfaatkan situs jejaring sosial, kami menyulap akun yang biasa untuk ajang eksistensi diri menjadi toko kecil jilbab serba ada, padahal stok yang kami punya adalah beberapa barang dari toko dipasar sebelah kos kami. Namun reaksi yang kami dapat sungguh luar bisaa. Animo masyarakat membuat kami berfikir untuk menata ulang sistem kerja dan manajemen yang selama ini kami gunakan. Dari sekedar iseng, menjadi sistem pengelolahan bermanajemen profesional.

Kendala terbesar dalam usaha yang kami lakukan selama ini adalah terkait dengan penyediaan barang. Sering kami harus membatalkan pesanan yang berjumlah banyak karena stok ditempat yang biasa kami ambil tidak lagi diproduksi atau sudah tidak memiliki stok. Padahal, jika dikelola dengan baik, usaha ini akan bisa berkembang dengan omset yang cukup menjanjikan.

Dari permasalah itulah kami berusaha mengajukan Proposal Kerjasama ini untuk bisa bersama mengembangkan usaha ini. Kami mencoba menawarkan sistem kerja serta pembagian profit kerjasama dalam uraian kami berikut.




Profil Usaha

  • Nama Usaha : Nama usaha dan brand produk yang kami pakai berlabel Jilbab QTa Bersama berdiri sejak Februari 2010 dengan bermodal Rp. 0. namun demikian omset yang kami hasilkan diawal usaha mencapai 1.000.000 – 3.000.000 ,- memang relative kecil, namun jika dilihat dari modal dan sistem manajemen yang kami gunakan, omset ini tentu bukan main-main nilainya. Kami bahkan berani mengatakan, jika manajemen dan sitem pengadaan barang kami dirubah, serta dikelolanya usaha ini secara profesional, omset yang dihasilkan bisa mencapai angka 100% dari yang kami hasilkan sebelumnya.

Usaha ini sempat berhenti beberapa waktu terkait manajemen yang kurang baik. Dan mulai bergeliat lagi pada bulan November 2010. Permasalah yang dihadapi Jilbab QTa tetap sama, yakni ketersediaan pasokan barang yang dalam istilah pengusaha Online adalah Ready Stok, Pasokan barang selalu tersendat karena sistem kami adalah menjualkan produk jadi produsen lain yang sudah ada dan belum tentu akan diproduksi ulang dalam waktu dekat, sedang customer kami juga belum tentu bias menunggu sampai batas waktu yang ditentukan.

Karena itu, kami berencana untuk menjadi pengusaha jilbab dan berperan juga sebagai produsen nya. Selain akan menjaga kestabilan produk yang dijual juga akan memberikan kepercayaan kepada pelanggan yang mengambil produk dengan merek kami dan tentu juga berimbas kepada kenaikkan profit serta omset dari penjualan Jilbab QTa. Selain itu kami juga akan melakukan pembenahan manajemen sebagai bentuk komitmen kami kepada usaha yang akan kami rintis.

.

Logo Jilbab QTa









  • Sistem Usaha

sistem yang kami pakai diawal usaha ini dimulai mungkin tidak bisa disebut manajemen yang baik. Karena kami hanya melaksanakan usaha ini sebagai pengisi waktu disela tugas utama kami. Kami hanya memanfaatkan beberapa media Online untuk memasarkan produk dan sedikit offline untuk orang-orang disekitar kami. Namun animo masyarakat yang luar bisa membuat kami berfikir jika ini adalah usaha yang bisa terus dikembangkan. Terbukti dengan rata-rata pesanan barang Jilbab QTa mencapai angka 12 kodi setiap bulan. Hanya dengan 9 produk pilihan.

Keunggulan kami adalah dikualitas produk yang kami tawarkan, yang kami deskripsikan dalan detail produk serta harga yang cukup terjangkau oleh masyarakat luas. Banyak dari customer kami adalah penjual jilbab yang berniat menjual kembali jilbab yang mereka beli dari kami. Karena itulah kami yakin jika Jilbab QTa telah memiliki tempat tersendiri untuk pelanggan-pelanggan kami.

Akses online yang biasa kami pakai bisa dilihat di

YM / FB : jilbabqta@yahoo.com

Twitter : @jilbabqta

Blog : http://jilbabqta.blogspot.com

Masih ada dikaskus.us, kombes.com, tokobagus.com, berniaga.com, dan beberapa direktori usaha lainnya.

Sistem manajemen yang kami siapkan adalah sebagai berikut :

Manajer Produksi : Bertugas mengawasi dan menjaga kestabilan ketersediaan barang. Menjaga ketersediaan dan pasokan barang yang akan dan siap diproduksi.

Manajer Kepegawain : Bertugas mengawasi dan menjaga kesatbilan kinerja pekerja. Kami berencana akan melibatkan masyarakat sekitar untuk menjadi bagian dari system kerja kami. Dengan demikian Jilbab QTa dapat turut berperan memajukan masyarakat sekitar

Manajer Pemasaran : Bertugas mengawasi dan menjaga kesetabilan pemasaran serta menikngkatkan target pemasaran secara simultan dan peningkatannya.


Sistem Kerjasama Dan Profit

Nilai investasi yang kami tawarkan adalah sebesar 25.000.000,- dengan nilai 1% keuntungan dari setiap 250.000,-

Sistem kerjasama terdapat dalam poin sebagai berikut :

  1. Sistem pembagian laba bersifat bagi hasil.

  2. Prosentase 1% keuntungan didapat dari setiap Rp. 250.000 nilai investasi.

  3. Besar pembagian hasil sesuai dengan besar prosentase nilai investai.

  4. Laba yang akan dibagi adalah 33 % dari laba bersih yang didapat dengan rincian dari 100% laba adalah sebagai berikut :

    • 33 % untuk pengembangan usaha

    • 33 % untuk Kas usaha

    • 33 % Laba bagi hasil

  5. Perhitungan laba akan ditambahkan setelah 2 bulan investasi. Hal ini untuk mengantisipasi fluktuasi pasar dan stabilitas pasar diawal pengembangan.

  6. Investasi dan laba bagihasil akan diberikan kepada investor setelah 12 bulan setelah penandatanganan kontrak kerjasama atau setelah 10x laba bagi hasil ditambahkan.

  7. Inverstor berhak mendapatkan laporan setiap bulan, berupa laporan transaksi termasuk transaksi 2 bulan pertama.

  8. mempunyai akses online secara personal diwebsite kami untuk mengetahui transaksi jilbab QTa.



Analisis Usaha

Berikut analisis usaha yang akan kami laksanakan.

  • Bahan Jilbab 750 lembar :

      • Bahan 150 kg x @ 75.000 : 11.250.000

      • Ongkos jahit 750 x 2.500/lembar : 1.875.000

      • Border logo 750 x 1000 : 750.000

      • Neci dan Obres 2.500 x 750 : 1.875.000

      • Label 1 roll : 1.500.000

      • Kemasan 750 x 1000 : 750.000

      • Aksesoris jilbab 750 x 2.000 : 1.500.000

Total 19.500.000


  • Pengeluaran Bulanan dan Promosi :

      • Brosur 5 Rim @ 300.000 : 900.000

      • Banner dan X-Banner senilai : 500.000

      • Kartu nama 10 box @ 25.000 : 250.000

      • Modem + isi : 400.000

      • Gaji manajerial 3 x 750.000 : 2.250.000

Total 4.300.000


  • Perangkat Usaha :

      • Penambahan Komputer 1unit+Printer : 2.800.000

      • Rak penyimpanan 2 unit @ 350.000 : 750.000

      • Meja kerja 2 Unit @ 250.000 : 500.000

Total 4.050.000

Nilai investasi akan kami hitung dengan nilai 1% setiap Rp.250.000.

Dengan perhitugan nilai investasi Rp. 3.000.000 akan mendapatkan 12 % dari keuntungan bagi hasil.

Simulasi bagi hasil dengan keuntungan minimal setelah dipotong biaya bulanan dan proposi yang kami targetkan sebesar Rp.6.000/lembar

- 6.000 x 750 lembar : 4.500.000

- 33 % dari 4.500.000 : 1.485.000

- per 1% dar 1.485.000 : 14.850

Setiap 1 persen akan mendapatkan laba bagihasil sebesar 14.850 dari laba jilbab QTa. Jika nilai investasinya 3.000.000,- atau 12 % maka laba bagihasil yang didapat adalah 178.200,-/bulan.

Dengan nilai investasi sebesar 3.000.000,- dalam satu tahun akan menjadi senilai 4.782.000,- untuk keuntungan rata-rata yang kami targetkan. Profit usaha bisa mencapai 20-40% dari nilai investasi selama 1 tahun atau 10x penambahan laba bagihasil.


Penutup

Demikian proposal usaha ini kami ajukan. Semoga bisa menjadi acuhan bapak/ibu serta kawan-kawan untuk bekerjasama dan menginvestasikan dananya untuk pengembangan usaha yang sedangkami rintis.

Untuk kerjsama yang akan terjalin, kami ucapkan banyak terakasih.

















Salam hormat kami

Jilbab QTa